Reka Ulang Ledakan di Gereja Samarinda, Bom Dirakit di Masjid

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar menunjukkan sejumlah barang bukti terkait pengungkapan dan penangkapan pelaku terorisme di beberapa wilayah di Indonesia di Mabes Polri, Jakarta, 30 November 2016. Densus 88 Antiteror berhasil meringkus terduga kelompok teroris di sejumlah wilayah Majalengka, Banten dan Aceh serta pelaku teroris Bom Gereja Oikumene Samarinda dengan barang bukti berupa berbagai jenis bahan kimia untuk membuat bahan peledak, senjata tajam dan senjata api. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar menunjukkan sejumlah barang bukti terkait pengungkapan dan penangkapan pelaku terorisme di beberapa wilayah di Indonesia di Mabes Polri, Jakarta, 30 November 2016. Densus 88 Antiteror berhasil meringkus terduga kelompok teroris di sejumlah wilayah Majalengka, Banten dan Aceh serta pelaku teroris Bom Gereja Oikumene Samarinda dengan barang bukti berupa berbagai jenis bahan kimia untuk membuat bahan peledak, senjata tajam dan senjata api. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Samarinda - Polisi menggelar rekonstruksi atau reka ulang peledakan Gereja Oikumene di Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis, 9 Maret 2017. Ada 20 adegan dalam rekonstruksi pada peledakan bom, 13 November 2016 itu. Dalam insiden itu, tujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk Juhanda merencanakan dan meracik bom rakitan di dalam Masjid Al Mujahidin.

    Dalam reka ulang ini, dua tersangka tak dilibatkan karena masih di bawah umur, GAP (15) dan RPP (16). Perannya digantikan oleh polisi. Sedangkan lima orang yang terlibat Juhanda, 33 tahun, Supriadi (60), Ahmad Dani (18), Ridho (33) dan Joko Sugito (49).

    Baca: Otak Bom Gereja Samarinda Ajak Muridnya ke Suriah

    Mereka bertujuh, bersepakat melakukan teror, dilanjutkan merakit bom molotov di dalam masjid. Mereka sepakat menunjuk Juhanda berperan meledakkan bom. Setelah semuanya siap, Juhanda akhirnya berangkat mengendarai sepeda motor menuju Gereja Oikumene yang jaraknya sekitar 200 meter dari masjid yang didiaminya itu.

    Juhanda menghentikan kendaraannya di depan gereja. Dia turun sembari membawa ransel berwarna hitam yang isinya bom rakitan. Niat Juhanda adalah meledakkan bom di dalam gereja yang berisi puluhan orang yang sedang menjalani ibadah. Niat itu gagal setelah bom yang dia bawa terjatuh di halaman Gereja Oikumene.

    Bom meledak. Empat bocah tak berdosa yang tengah asik bermain di halaman gereja terkena jilatan asap panas. Mereka harus merasakan dampak perbuatan Juhanda Cs.

    Empat bocah mengalami luka bakar, seorang diantaranya, Intan Olivia Banjarnahor, 2,5 tahun meninggal dunia. Nyawa Intan tak bisa diselamatkan akibat luka bakar serius di sekujur tubuhnya.

    Baca: Kisah Penjual Sayur yang Otaki Pengeboman Gereja Samarinda

    Rangkaian adegan reka ulang diakhiri dengan Juhanda melarikan diri ke arah Sungai Mahakam usai meledakkan bom. Saat itu, Juhanda melompat ke sungai sebelum akhirnya berhasil diamankan warga bersama pihak kepolisian.

    "Ini kegiatan rekonstruksi, tindak pidana terorisme yang terjadi di lokasi ini beberapa waktu lalu," kata Kepala Kepolisian Resor Kota Samarinda Komisaris Besar Polisi Reza Arief Dewanto, usai rekontruksi digelar di depan Gereja Oikumene, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis, 9 Maret 2017.

    Reza menjelaskan, langkah ini untuk melengkapi berkas pemeriksaan para tersangka. Sekaligus menyamakan antara keterangan tersangka dan para saksi mata berdasarkan hasil berita acara pemeriksaan. "Agar tergambar bagi penyidik dan jaksa penuntut umum tentang cara para pelaku melakukan perbuatannya," kata Reza.

    Simak juga: Bertemu Jokowi, SBY Senang Bisa Bicara Blakblakan

    Dalam rekonstruksi tersebut, pengawasan ketat dilakukan oleh brimob bersenjata guna memastikan tidak ada gangguan selama berjalannya reka ulang tersebut.

    FIRMAN HIDAYAT/SAPRI MAULANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.