Banjir Surut, 1.620 Siswa di Limapuluh Kota Masih Diliburkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi banjir. ANTARA/Wahyu Putro A

    Ilustrasi banjir. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Padang - Sebanyak 1.620 siswa di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat masih diliburkan setelah banjir menggenangi sekolah mereka. Sebab, sekolah masih berlumpur.

    "Banjir sampai ke loteng sekolah," ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota, Radinas, kepada Tempo, Kamis, 9 Maret 2017.

    Selain lumpur, tingginya air membuat aset sekolah terendam, seperti buku-buku pelajaran, media pendidikan dan mebel. Ada juga sekolah yang terisolasi, karena akses jalan putus total.

    Baca:

    Area Banjir di Limapuluh Kota Terisolasi, Logistik Via ...
    BPBD: 5 Korban Tewas Limapuluh Kota Karena Mobil ...

    Semua guru dan sejumlah siswa di Limapuluh Kota serta relawan bergotong royong membantu membersihkan sekolah. “Semoga Senin depan siswa bisa kembali bersekolah," ujarnya.

    Sekolah membutuhkan buku-buku pelajaran dan peralatan sekolah lainnya. Siswa yang rumahnya kebanjiran membutuhkan buku tulis dan seragam sekolah.

    Baca juga:

    Nama-nama Besar dalam Suap E-KTP, Ada Gamawan dan Yasonna Laoly
    Sidang Kasus E-KTP, Ini Penyebab KPI Kritik Larangan Siaran Live

    Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi mengatakan beberapa sekolah di Limapuluh Kota yang kebanjiran sudah mulai melakukan aktivitas kegiatan belajar seperti di Harau.  Ia mengakui, "Memang masih ada sejumlah sekolah yang masih diliburkan," ujarnya Rabu 8 Maret 2017

    Menurut Bupati, dua helikopter dari Basarnas dan BNPB menyalurkan bantuan ke beberapa nagari (desa adat) di Kapur IX yang masih terisolasi. Bantuan yang didistribusikan berupa bahan makanan pokok, lauk pauk, peralatan ibu dan anak. Juga pakaian sekolah dan buku-buku untuk siswa.

    ANDRI EL FARUQI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.