Komunitas Konservasi Duga Bisnis Satwa Dilindungi Ini Marak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Trenggiling (Paramanis javanica) bekuyang dimusnahkan dengan cara di bakar di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Juanda, Surabaya, 8 Juli 2015. Sebanyak 455 ekor trenggiling beku di temukan saat akan di selundupkan  menuju Singapura. FULLY HANDOKO

    Sejumlah Trenggiling (Paramanis javanica) bekuyang dimusnahkan dengan cara di bakar di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Juanda, Surabaya, 8 Juli 2015. Sebanyak 455 ekor trenggiling beku di temukan saat akan di selundupkan menuju Singapura. FULLY HANDOKO

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP) atau Komunitas Konservasi Satwa Liar-Program Indonesia, Noviar Andayani mengatakan perdagangan satwa liar dilindungi saat ini masih marak terjadi. Dari sekian banyak satwa paling banyak yang diperdagangkan saat ini adalah jenis trenggiling.

    “Saat ini trenggiling dari segi volumenya, setiap kasus (diungkap) bisa mencapai ton dan puluhan ribu (trenggiling),” kata Noviar di Jakarta, Senin, 6 Maret 2017.

    Noviar menuturkan perdagangan trenggiling (Paramanis javanica) umumnya mengarah ke pasar Asia. Ia menyebut adanya permintaan menyebabkan perburuan dan perdagangan hewan itu dilakukan. Sebab, trenggiling dianggap memiliki sejumlah khasiat untuk kesehatan.

    Lihat : 16 Satwa Langka Disita dari Resor Wisata di Bandung

    Noviar mengatakan biasanya trenggiling bisa diperoleh di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Namun saat ini, ada pula pemburu yang mencari trenggiling di Pulau Jawa. Ia menilai selain trenggiling, satwa lain yang juga banyak diperdagangkan adalah harimau, gading gajah, primata seperti orang utan. Termasuk juga kelompok burung (aves).

    Belakangan muncul trend perburuan burung rangkong gading. Noviar mengamati ada kenaikan permintaan pasar terhadap rangkong gading. Ia menyebut cula dari hewan yang hidup di Kalimantan dan Sumatera itu banyak dijual ke Cina untuk memasok obat tradisional. “Harganya lebih mahal dibanding gading gajah,” ujar dia.

    Dari banyaknya kasus perdagangan satwa liar tersebut, WCS-IP, Senin, 6 Maret 2017  menggandeng Kejaksaan Agung untuk bekerjasama. Muatan dari kerja sama tersebut adalah peningkatan kapasitas jaksa penuntut umum yang menangani perkara perdagangan satwa liar dilindungi. Tujuannya agar para pelaku perdagangan satwa liar dilindungi dapat ditindak lebih tegas.

    Simak pula : Bisa Jadi Raja Salman ke Bali untuk Wisata Toleransi

    Noviar menambahkan bahwa para pelaku saat inj sudah memasarkan secara luas satwa-satwa yang diburu tersebut tidak hanya di dalam negeri. Namun juga ke luar negeri.

    Dia mencontohkan untuk pasar trenggiling biasanya di Cina dan Vietnam. Sedangkan pasar Eropa untuk satwa jenis burung dan primata untuk dipelihara. “Pasar Asia untuk obat dan makanan, Eropa untuk perhiasan,” kata dia.

    DANANG FIRMANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.