Sampah, Kawan yang Bisa Menjadi Lawan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sampah, Kawan yang Bisa Menjadi Lawan

    Sampah, Kawan yang Bisa Menjadi Lawan

    INFO NASIONAL - Sejak pukul 06.00, siswa sekolah dan masyarakat umum memadati Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa, 28 Februari 2017. Mereka bukan hendak berwisata, tapi memunguti sampah yang bertebaran di sekitarnya, bersamaan dengan puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2017. Ada sekitar 16 ribu orang yang bergotong royong membersihkan salah satu obyek wisata andalan Kota Pahlawan itu.

    Peringatan HPSN di Surabaya dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta istri, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga, Menteri Pemberdayaan Perempuan Yohana Yembise, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, perwakilan negara-negara sahabat, pejabat daerah, aktivis lingkungan, dan masyarakat umum.

    Wakil Presdien Jusuf Kalla mengatakan Indonesia tercatat sebagai salah satu penghasil sampah terbesar di dunia karena jumlah penduduknya juga besar. Persoalan sampah pun tak akan habis, apalagi jika mengingat sampah merupakan bagian dari kehidupan yang tak mungkin dibersihkan 100 persen. “Karena itulah diperlukan aturan. Namun di belakang itu, yang menjalankannya adalah masyarakat. Perlu ada perubahan perilaku masyarakat (dalam mengelola sampah),” kata Wapres dalam sambutannya.

    Sampah ibarat dua sisi mata pisau yang saling berlawanan. Satu sisi bisa menjadi lawan, sisi lain bisa menjadi kawan. Menurut Wapres, sampah akan menjadi lawan jika dibuang begitu saja tanpa pengelolaan yang baik. Hal itu sudah terbukti ketika tragedi longsornya tempat penampungan akhir (TPA) sampah Leuwigajah, Cimahi, pada 21 Februari 2005 lalu yang menewaskan 157 warga. Tentu tak ada yang menginginginkan tragedi itu terulang karena kecerobohan yang sama.

    Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, sampah akan menjadi kawan yang bermanfaat bagi umat manusia. “Sampah bisa menjadi listrik, pupuk, atau barang daur ulang. Perlu ada usaha supaya sampah berubah dari lawan menjadi kawan, dari berbahaya menjadi bermanfaat. Masyarakatlah yang bisa mengubahnya. Semua orang harus bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya,” ujar Wapres.

    Tahun ini, peringatan HPSN mengusung tema “Mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2020” dengan tiga subtema, yaitu Jaga Keindahan Alam Gunung, Sungai, Laut dari Sampah; Bersihkan Laut dari Sampah; dan Kelola Sampahmu Lebih Baik. Tema tersebut dipilih untuk menunjukkan komitmen dan konsistensi pemerintah dalam mencapai target Indonesia bersih sampah pada 2020. Target itu dicapai melalui pengurangan sampah secara nasional mencapai 20 persen dan penanganan sampah secara nasional mencapai 75 persen.

    Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta orang, Indonesia menghasilkan sampah sekitar 65 juta ton per tahun. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan sekitar 60 persen dari jumlah itu berupa sampah organik dan 14 persen sampah plastik. Sebanyak 48 persen sampah tersebut berasal dari rumah tangga dan 24 persen lagi dari pasar tradisional. “Hal itu menunjukkan bahwa 72 persen sampah berasal dari kehidupan sehari-hari,” katanya.

    Sampah plastik, meskipun jumlahnya lebih sedikit, perlu perhatian khusus karena tak mudah diurai alam sehingga bisa menimbulkan persoalan lingkungan yang serius. Di tempat penampungan sampah, gunungan sampah plastik tak jarang dijadikan makanan hewan ternak. Di laut, sobekan-sobekan sampah plastik masuk ke tubuh ikan. Baik hewan ternak di daratan maupun ikan di lautan akan menjadi makanan manusia. “Efeknya karsinogenik, akan menjadi penyakit puluhan tahun ke depan karena memakan daging itu,” ujar Menteri Siti.

    Sampah plastik juga merusak keindahan kawasan wisata. Dengan target mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara pada 2020, lingkungan kawasan wisata ini perlu didukung dengan lingkungan hijau dan bersih.

    Itu belum termasuk efek lingkungan berupa bencana seperti banjir yang melanda banyak tempat, khususnya kota-kota besar.

    Di tengah kondisi ini, Siti Nurbaya optimistis Indonesia bisa mewujudkan cita-cita bersih dari sampah pada 2020 meskipun waktunya semakin pendek. Optimisme itu datang dari masyarakat yang semakin peduli dengan sampah. Upaya mengurangi timbunan sampah berbasis masyarakat adalah melalui bank sampah. Saat ini jumlah bank sampah yang terdata ada sekitar 4.280 yang memberi kontribusi bertahap pengurangan sampah nasional. Selain dapat mengurangi timbunan sampah, banj sampah dapat pula menumbuhkan perekonomian rakyat yang diperoleh dari hasil berbisnis sampah.

    Pada awal 2015, baru ada 21 kota di Indonesia yang melakukan aktivitas peduli sampah, dibantu 61 fasilitator yang berperan aktif berkampanye dan melakukan kegiatan pengelolaan sampah. Jumlah itu meningkat siginifikan pada 2016 dengan 1.024 fasilitator yang berada di 155 kota. Tahun ini, jumlahnya lebih besar lagi, yaitu 9.550 fasilitator yang bergerak di 226 kota.

    Dorongan yang tinggi dari masyarakat tersebut didukung dengan aturan dan fasilitas pengelolaan sampah dari pemerintah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah menyusun Peraturan Presiden tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga yang segera ditandatangani presiden.

    Tahun lalu, kementerian membentuk Dewan Pengarah dan Pertimbangan Pengelolaan Sampah Nasional yang bertugas memberikan pertimbangan, meningkatkan komunikasi, menyiapkan instrumen monitoring, melakukan advokasi, mendukung kampanye, dan membantu evaluasi program pengelolaan sampah di Indonesia.

    Di tahun yang sama, pemerintah juga melakukan uji coba terhadap penggunaan kantong plastik berbayar di toko-toko retail. Uji coba ini tak mudah karena menimbulkan persoalan pada para pemangku kepentingan. Namun, selama tiga bulan perta,a, uji coba ini menunjukkan penurunan penggunaan kantong plastik di toko retail di 23 kota sebesar 30-55 persen.

    Dunia usaha pun tak mau kalah. Sampah plastik yang dihasilkan didaur ulang sebagai bahan baku produk lain, misalnya botol air minum kemasan menjadi kaos dan kursi plastik. Indonesia juga sudah memiliki industri yang membuat lapisan beton untuk jalan dari bahan sampah plastik. Kerja sama yang baik antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat ini menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia bersih sampah 2020. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.