Ketemu Menhan, Buya Syafi`i: Jangan Kalah dari Ormas Radikal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menjadi narasumber saat acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. TEMPO/Subekti

    Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menjadi narasumber saat acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengunjungi dua tokoh ormas Muhammadiyah di Yogyakarta untuk membicarakan realisasi bela negara, Ahad, 5 Maret 2017. Kedua tokoh yang dikunjungi adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif atau Buya Syafi'i.

    Syafi’i Ma’arif menilai bela negara adalah salah satu cara untuk memperbaiki bangsa ini. Baik dengan menyadarkan ormas atau orang-orang yang bersikap radikal maupun menegakkan hukum bagi tindakan kriminal.

    “Mereka juga bangsa kita. Ada juga yang kena pengaruh idiologi luar yang tak benar. Sadarkan atau tegakkan hukum. Enggak ada jalan lain,” kata Syafi’i di rumahnya, Perumahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Ahad, 5 Maret 2017.

    Baca: Ryamizard: Kita Tidak di Kiri-Kanan, Pancasila di Tengah

    Menurut Syafi’i, adanya kelompok-kelompok radikal karena berawal dari ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang tajam. Dia mempunyai harapan besar terhadap kiprah Ryamizard dalam merealisasikan bela negara. Dia tak khawatir bela negara akan disalahgunakan oleh ormas-ormas radikal.

    “Masak tentara kalah. Negara harus kuat. Enggak boleh membiarkan orang-orang itu bikin gaduh,” kata Syafi’i.

    Ryamizard menekankan bela negara merupakan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia. Lantaran itu pula, penyiapan konsep bela negara yang sudah dilaksanakan dua tahun lalu juga menggandeng Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Menteri Pendidikan Nasional, juga Menteri Agama.

    Baca: FPI Ikut Bela Negara, Menhan: Yang Radikal Bisa Larut

    “Melaksanakan (bela negara) itu harus. Termasuk ormas yang radikal juga kami ajarkan bela negara,” kata Ryamizard.

    Menurut Ryamizard, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Seperti melatih ormas untuk bela negara. Juga mengajarkan bela negara kepada warga negara sejak usia dini. Termasuk kegiatan Pramuka merupakan bagian dari bela negara. Dia berharap melalui bela negara akan membuat warga negara bangga dengan bangsanya dan mencintai negaranya.

    “Ormas radikal ada yang ragu-ragu. Jadi kami dengerin dulu. Tidak ujug-ujug cinta dan bangga. Harus tahu dulu sejarah bangsa ini,” kata Ryamizard yang mengklaim sudah ada sekitar 70 juta warga negara yang mengikuti bela negara.

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.