Sungai Meluap, Kotawaringin Barat dan Timur Kebanjiran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi banjir. TEMPO/Dasril Roszandi

    Ilustrasi banjir. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Tingginya curah hujan di Kalimantan Tengah dalam dua pekan ini membuat sejumlah sungai meluap. Akibatnya ratusan rumah warga Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur kebanjiran.

    Di Kotawaringin Barat, luapan Sungai Arut merendam 730 rumah di 10 desa di Kecamatan Arut Utara terendam banjir sejak lima hari lalu. “Setiap hari, debit air selalu meningkat dan saat ini sudah sekitar satu setengah meter," kata Sumantri, penduduk Kecamatan Arut Utara, Ahad, 5 Maret 2017.

    Baca:
    Limapuluh Kota Terapkan Tanggap Darurat Bencana 6 Hari
    Banjir dan Tanah Logsor, 100 Kendaraan Terjebak 36 Jam
    2.834 Rumah Warga Terendam Banjir di Riau

    Namun, meski terendam air masyarakat masih bertahan di rumah masing-masing, belum mengungsi. Mereka bertahan karena membuat semacam lantai dari kayu di dalam rumah sehingga masih bisa beraktivitas. “Tapi kalau air semakin tinggi kami akan mengungsi," ujar Sumantri. Camat Arut Utara Marwoto mengimbau masyarakat segera mengungsi agar bisa segera menyalurkan bantuan.

    Sedangkan di Kabupaten Kotawaringin Timur, wilayah yang kebanjiran adalah Kecamatan Parenggean dan Kecamatan Mentaya Hulu. Curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari ini membuat sungai meluap sehingga akses jalan desa terendam air setinggi 30-50 sentimeter.

    Baca juga:
    Pengamat: Raja Salman Datang, Perbaiki Citra Jokowi dan Ahok
    Tahu Kim Jong-nam Tewas, Rakyat Korea Utara Marah

    Penduduk pun belum mau mengungsi. "Air masih rendah. Tapi bila semakin tinggi kami terpaksa mengungsi," kata Nico, penduduk Parenggean.

    Di Kecamatan Mentaya Hulu, banjir merendam Desa Tangar dan Desa Baampah.

    KARANA W.W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.