Remaja Ini Tulis Surat Terbuka untuk Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi Bagikan Kartu Indonesia Pintar Se DIY

    Presiden Jokowi Bagikan Kartu Indonesia Pintar Se DIY

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Jokowi menerima surat terbuka dari seorang remaja putri bernama Ruri Kiswanti, 16 tahun, pada Rabu, 1 Maret 2017. Surat dari anak yang tinggal di kaki Gunung Merapi, Yogyakarta, itu untuk merespons anjuran Jokowi saat membuka Rapat Kerja Kesehatan Nasional Tahun 2017, peluncuran Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS), serta Pembangunan 124 Puskesmas Perbatasan di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, sehari sebelumnya.

    Saat membuka rakernas itu, Jokowi menjelaskan alasannya berkeliling ke daerah untuk memberikan makanan tambahan bagi anak-anak, ibu hamil, dan balita.

    “Saya selalu sampaikan jangan sampai ada uang dipakai untuk beli rokok dan tidak dipakai untuk menambah gizi anaknya,” kata Jokowi. “Hal-hal seperti itu diingatkan kepada keluarga-keluarga di kampung. Kalau enggak seperti itu, enggak ngerti mereka.”

    Menurut Ruri, ia senang Jokowi bisa menyampaikan peringatan agar uang yang terbatas tidak digunakan untuk membeli rokok. Ia ingin pernyataan Jokowi ini bisa diteruskan sampai ke kementerian.

    Ruri pun ingin pernyataan Jokowi ini bisa menjadi jalan tol agar Indonesia mengaksesi Konvensi Pengendalian Tembakau (FCTC). “Saya ingin bertanya, kenapa sih Pak Jokowi tidak mengaksesi FCTC? Bapak bilang, jangan sampai ada uang untuk beli rokok dan mengesampingkan gizi anak. Lalu, setelah itu, apa yang akan Bapak lakukan sebagai Presiden Republik ini? Saya tidak bisa terus menunggu saja, Pak. Saya sudah ndak kuat. Teman-teman saya sudah banyak yang menjadi perokok. Jumlah perokok anak makin edan, Pak,” kata Ruri, yang menuliskan surat terbuka ini di Indonesiana.

    ISTIQOMATUL HAYATI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.