Kisah Sukses Mantan Buruh Migran Jadi Pengusaha

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam kegiatan gerakan Tolak Hoax di Semarang, Jawa Tengah, 8 Januari 2017. Facebook.com/Ganjar-Pranowo

    Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam kegiatan gerakan Tolak Hoax di Semarang, Jawa Tengah, 8 Januari 2017. Facebook.com/Ganjar-Pranowo

    TEMPO.CO, Cilacap - Sebanyak seratus mantan buruh migran menceritakan pengalamannya setelah tidak lagi menjadi buruh migran di hadapan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Mereka terlihat antusias mengacungkan jari untuk sekadar menyambut ajakan Ganjar di depan panggung.

    Dartiatun, salah seorang buruh migran bercerita, pernah dua tahun bekerja di Taiwan pada 2007 lalu. Dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan tugas utama merawat majikannya yang berusia lanjut. Di Taiwan, dia mengaku mendapatkan gaji sebesar Rp 4,5 juta. “Saya tidak lama di sana karena rindu keluarga dan kampung halaman,” ujarnya saat ditemui Tempo di Kecamatan Nusawungu, Cilacap, Kamis, 2 Februari 2017.

    Setelah tidak menjadi buruh migran, dengan modal yang diperolehnya selama di Taiwan digunakan untuk usaha. Diantaranya seperti jualan baju, batu bata merah, sampai menjadi agen asuransi. Dari usaha tersebut, dalam sebulan dia mendapatkan pemasukan sebesar Rp 3 juta. “Masalahnya kalau usaha jualan seperti ini kalau tetangga mengambil duluan susah ditagih,” katanya diiringi seluruh mantan buruh migran.

    Baca juga:
    Debat Terakhir Pilkada, KPU Kurangi Jumlah Pendukung Calon
    Luhut Bertemu Ma'ruf Amin, Istana: Pemerintah Tak Urusi Ahok

    Ganjar menyambut baik usaha Dartiatun. Kapada mantan buruh migran, Ganjar mendorong agar mereka dapat melakukan usaha yang dapat dikerjakan di rumah. Selama ini, yang sudah dilakukannya diantara memberikan memberikan pelatihan keterampilan seperti membuat bakso sampai membatik.

    “Di Banyumas ada gula semut yang sudah bisa ekspor sampai Amerika dan bisa diberdayakan. Di Cilacap akan lebih juga memperhatikan potensi apa yang bisa dikembangkan,” kata Ganjar.

    Memfasilitasi mantan buruh migran, kata Ganjar, selain memberikan pelatihan keterampilan, melalui Bank Jateng, dia menyarankan agar dapat melakukan pinjaman untuk digunakan usaha. Pinjaman di Bank Jateng dianggapnya tidak akan membebani. Sebab, dalam setahun bunga yang dibayarkan sebesar 7 persen. “Mereka bisa mandiri dan tidak perlu keluar negeri. Kita harus melatih dan memberikan aksses pendampingan di rumahnya dengan usaha keluarga," tutur dia.

    Baca juga:
    Patrialis Akbar Akui Melanggar Etik, Saat Diperiksa MKM
    Menkominfo: Isu Penyadapan Diselesaikan di Pengadilan

    Koordinator Forum Warga Buruh Migran Kecamatan Nusawungu, Tun Habiba, mengatakan, dia sempat ditawarkan pinjaman sebesar Rp 200 juta untuk operasional Koperasi Serba Usaha Baitulmaal Wattamgwil Bumi Sejahtera. Pinjaman tersebut dapat turun, setelah koperasi yang berdiri pada 8 Agustus 2015 ini sudah berbadan hukum. “Dari pemprov kami dapat pelatihan menjahit, tata boga, sampai alat untuk membuat bakso, pudding, dan mesin jahit,” ujarnya.

    Koperasi tersebut beranggotakan sebanyak 700 orang. Sebagian besar diantaranya merupakan mantan buruh migran. Dari jumlah tersebut, sebanyak 300 orang dinilainya aktif dalam kegiatan pelatihan. “Syukurlah setiap anggota bisa berkembang mandiri dan hasil pelatihan bisa dikembangkan usaha di rumah masing-masing seperti buat baju dan tas,” tuturnya.

    BETHRIQ KINDY ARRAZY



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.