Selang Hitam di Perut TKI Sri Rabitah Sudah Diangkat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TKW Lombok Utara Sri Rabitah yang kehilangan ginjal di Doha Qatar. Istimewa

    TKW Lombok Utara Sri Rabitah yang kehilangan ginjal di Doha Qatar. Istimewa

    TEMPO.CO, Mataram - Sri Rabitah, 25 tahun, TKI  yang pernah bekerja di Qatar sudah menjalani operasi pengangkatan selang berwarna hitam sepanjang sekitar 30 sentimeter yang terdapat dalam perutnya, Kamis pagi, 2 Maret 2017. Operasi yang dilakukan di sebuah rumah sakit yang minta tidak disebutkan namanya itu mulai dipersiapkan pukul 06.00 dan berakhir tengah hari, waktu setempat. Lama operasi berlangsung selama tiga jam 45 menit.

    ''Alhamdulillah, berkat doa semua, operasi pagi ini berjalan lancar. Doa untuknya, mudahan bisa sehat dan kembali kumpul dengan keluarga,'' kata Kordinator Wilayah Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Saleh kepada Tempo, Kamis petang, 2 Maret 2017.

    Baca juga: Ginjal Sri Rabitah Masih Lengkap Berdasarkan Deteksi Awal

    Tetapi Muhammad Saleh tidak bersedia menyebutkan isi perutnya karena masih menunggu yang berhak menjelaskan langsung. Menurut Muhammad Saleh, ia mempersoalkan pertama adanya pemalsuan dokumen dari statusnya sebagai penduduk Kabupaten Lombok Utara menjadi tercantum Lombok Barat. ''Biasanya bermasalah kalau sudah demikian. Ini mafia di tingka lokal,'' ujar Saleh.

    Laporan Investigasi di Majalah Tempo 20-26 Maret 2017 tentang perdagangan manusia melaporkan jaringan serta modus yang digunakan para pelaku perdagangan manusia menjebak korbannya, khususnya TKI dari Nusa Tenggara Timur. Jika jumlah TKI legal di Malaysia mencapai 1,2 juta orang. Jumlah TKI ilegal diperkirakan dua kali lebih besar. Mereka kerap tak memperoleh haknya, bahkan terkadang disiksa atau dibunuh

    Infografik: Berdagang Orang ke Malaysia

    Kedua, adalah tujuan berangkat bekerja Sri Rabitah bersama 23 orang dari NTB semula diberitahukan ke Abu Dabi. ''Tau-tau kok jadi berubah ke Qatar dan mereka tidak tau,'' ucapnya. Sebelum keberangkatannya mereka menjalani pelatihan di Jakarta selama empat bulan.

    Baca pula: Ginjal Sri Rabitah Diambil Majikan, Kemlu Tunggu Konfirmasi

    Ketiga, lima hari di rumah majikan kemudian dua hari di rumah ibu majikan tau-tau berbaik hati operasi batu ginjal. Padahal tidak murah dan kotradiksi dengan perilaku majikan yang pagi itu setelah menjalani operasi sorenya dikembalikan ke kantor PT yang menempatkannya ke majikannya yang disebut Madam Gada. ''Tidak ke rumah. Saya menduga ada sesuatu,'' katamnya.

    Keempat adalah kejanggalan kalau dioperasi lalu ada slang seharusnya resmi diberitahu karena cuman sebulan. kalau tidak ada rekam medis yang diberikan, tidak akan ada yang tau. Berarti kasus ini sengaja disembunyikan.

    Investigasi: Jaringan 'Mafia' Penjual Manusia

    Untuk kepentingan pembiayaan perawatan Sri Rabitah, pegiat peduli buruh migran mengajak untuk mengumpulkan dana selain menagih janji tanggung jawab pemerintah. ''Berapa yangdibutuhkan blum tau budget yang diperlukan,'' ujarnya.

    Silakan baca: Pemerintah Usut Pengirim Sri Rabitah, TKI yang Kehilangan Ginjal

    Seperti diberitakan Tempo, Sri Rabitah warga Dusun Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan Lombok Utara baru mengetahui kehilangan ginjalnya setelah menjalani rontgent di Rumah Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Lombok Utara dan RSU Provinsi NTB. Ia didampingi oleh Kordinator Wilayah Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran NTB Muhammad Saleh menemui Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar agar memperoleh bantuan perawatan medis dan hukum yang dialaminya.

    Sri Rabitah, diduga kehilangan satu ginjalnya karena diambil tanpa sepengetahuannya sewaktu bekerja di Doha Qatar, tiga tahun lalu. Temuan ini didapat setelah menjalani rontgen di RSU Daerah Kabupaten Lombok Utara di kota Tanjung dan kemudian diperkuat hasil rujukan di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB seminggu lalu.

    Baca: TKW Asal Lombok Ini Kehilangan Ginjal di Qatar

    Sri Rabitah menjelaskan kepada Tempo, semula sekitar Juli 2014, ia ditempatkan di rumah keluarga Madam Gada, keluarga Palestina di Doha Qatar. Hanya sehari kemudian ditempatkan di rumah orang tuanya di lokasi yang berbeda. ''Orang tuanya sakit-sakitan jalannya pincang,'' kata Sri Rabitah asal Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan Lombok Utara.

    Tanpa menderita sakit, Sri Rabitah dibawa oleh saudaranya Madam Gada ke rumah sakit dan langsung diinfus walaupun ia menolaknya. Kemudian dipindahkan ke ruang operasi yang penuh peralatan gunting dan pisau. Seterusnya ia mengaku tidak sadarkan diri. Sewaktu sadar, ia melihat tubuhnya penuh selang infus dan kencing darah melalui selang.

    SUPRIYANTHO KHAFID

    Simak: Seperti Raja Faisal, Raja Salman pun Bahagia di Indonesia

    Video Terkait:
    Investigasi Majalah Tempo: Perdagangan Manusia ke Malaysia
    Korban Perdagangan Manusia, 8 TKI Brebes Diselundupkan Lewat Laut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.