BPPT Garap PLTP Kamojang, Mayoritas Komponen Lokal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Bandung - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) siap merampungkan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berskala kecil 3 megawatt di Kamojang, Kabupaten Bandung.

    Pembangkit listrik itu diharapkan bisa mendongkrak potensi yang dihasilkan energi panas bumi yang selama ini masih belum maksimal dipakai. Anggaran yang digunakan BPPT guna pengembangan PLTP berskala kecil itu sebesar Rp 80 miliar.

    "Anggaran Rp 80 miliar itu termasuk ekonomis, ya. Mungkin ini uapnya 4 sen dan investasinya sekitar 6 sen ya mungkin lebih ekonomis dibanding pembangkit listrik lain," ucap Kepala BPPT Unggul Priyanto kepada Tempo di area PLTP 3 MW, Kamojang, Kabupaten Bandung, Selasa, 28 Februari 2017.

    PLTP 3 MW ini merupakan PLTP pertama di Indonesia yang menggunakan komponen yang kebanyakan hasil buatan dalam negeri. Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekitar 70 persen yang digunakan dalam pembangkit listrik itu merupakan produk-produk hasil karya anak bangsa.

    Untuk urusan plant engineering, detail desain pengembangan, dan sistem kontrol komponen dikerjakan BPPT. Adapun untuk peralatan utamanya pengerjaannya oleh beberapa pabrikan lokal, seperti steam turbine dipasok Nusantara Turbin Propulsi(NTP), tower pendingin dari PT Hamon Indonesia, dan generator buatan PT Pindad. Hanya bagian akhir sistem pengendaliannya yang didatangkan dari luar negeri.

    "Saat ini, pembangkit sedang memasuki tahap interkoneksi dengan jaringan PLN dan diharapkan akan berfungsi secara normal untuk dilakukan penelitian mengenai daya tahan dan keandalannya," ujarnya.

    Direktur Pusat Teknologi Industri Permesinan BPPT Barman Tambunan menuturkan kendala yang kini masih terus dibenahi yang kerap kali menimpa PLTP itu adalah masih belum stabilnya turbin yang dihubungkan dengan generator, sehingga menyebabkan energi listrik yang dihasilkan kurang maksimal.

    "Putaran turbinnya tidak stabil karena naik-turun di kisaran 6485 Rpm. Ini terus kami benahi dan menjadi rujukan untuk terus memperbaiki mesin pembangkitnya. Ini masih riset ya, tapi memang luar biasa," kata Barman.

    AMINUDIN A.S.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.