Bus Masuk Jurang di Tawangmangu Bawa Rombongan Guru  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. TEMPO/Arif Wibowo

    Ilustrasi. TEMPO/Arif Wibowo

    TEMPO.CO, Karanganyar - Enam penumpang tewas setelah bus yang ditumpangi terperosok ke jurang di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Ahad, 26 Februari 2017. Rombongan wisatawan tersebut berasal dari Sekolah Dasar Jimbaran Etan, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo.

    Rombongan guru dan keluarganya itu hendak berwisata di Gerojogan Sewu yang berada di Tawangmangu. Nahas, bus tersebut mengalami kecelakaan sekitar empat kilometer dari tujuan wisata itu.

    Baca juga: Bus Masuk Jurang di Tawangmangu, 6 Penumpang Tewas

    Salah satu penumpang yang selamat, Didit Setyawan, mengatakan rombongan tersebut sedang mengadakan acara perpisahan. "Ada satu guru yang mutasi dan satu guru yang pensiun," katanya saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karanganyar.

    Rombongan tersebut berangkat dari Sidoarjo pada Sabtu pagi. "Singgah dan menginap di Sarangan, Magetan," katanya. Pada Ahad menjelang siang, rombongan itu berangkat menuju Gerojogan Sewu yang berada di lereng Gunung Lawu.

    Sayangnya, bus mengalami kecelakaan saat melewati turunan curam dan berkelok. Pengemudi diduga tidak mampu mengendalikan kendaraan dan terjun ke jurang dalam kondisi terguling.

    Ironisnya, dua guru yang akan pindah dan pensiun juga menjadi korban tewas dalam kecelakaan itu. "Kami tidak menyangka justru berpisah selamanya," katanya sembari memegang dadanya yang masih sakit.

    Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Karanganyar Ajun Komisaris Ahdi Rizaliansyah menjelaskan bahwa kondisi jalan itu memang cukup rawan lantaran cukup curam dan berkelok. “Hanya untuk kendaraan kecil,” katanya. Sedangkan untuk bus dan kendaraan besar sudah ada jalan baru yang lebih landai.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.