JK: Tidak Masuk Akal Orang Indonesia Menyumbang ISIS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita menggendong putrinya setelah desanya berhasil dibebaskan dari kekuasaan ISIS di Mosul, Irak, 22 Februari 2017. REUTERS/Zohra Bensemra

    Seorang wanita menggendong putrinya setelah desanya berhasil dibebaskan dari kekuasaan ISIS di Mosul, Irak, 22 Februari 2017. REUTERS/Zohra Bensemra

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat suara mengenai aliran dana dari GNPF MUI ke Turki yang diduga untuk ISIS. Menurut Wakil Presiden, hal itu tak masuk akal. "Sangat tidak logis apabila Indonesia membantu ISIS," kata Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jumat, 24 Februari 2017.

    Sebagaimana telah diberitakan, Kepolisian menyelidiki peruntukan dana yang dikirimkan GNPF-MUI ke Turki. Penggunaan dana itu diduga berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan dana Yayasan Keadilan untuk Semua (Justice For All) lewat rekening yayasan di Bank BNI Syariah.

    Baca:
    GNPF-MUI: Transfer ke Turki untuk Bantuan Kemanusiaan
    Pengacara Sebut Kasus Pencucian Uang GNPF MUI ...
    Polisi Sebut Tersangka Kasus Duit GNPF MUI sebagai ...

    Belakangan, pihak Kepolisian menduga aliran dana dari GNPF MUI itu berkaitan dengan aktivitas ISIS di Turki. Hal itu mengacu pada sejumlah pemberitaan media asing di Suriah.

    Wakil Presiden menjelaskan tidak logisnya Indonesia membantu ISIS secara finansial karena ISIS sesungguhnya sudah terlampau kaya. Hal itu terlihat dari ditemukannya gudang minyak serta gudang uang mereka yang sudah dihancurkan.

    Baca juga:
    Pintu Kabin Tak Tertutup, Sriwijaya Air Kembali ke Cina 
    Potensi Freeport Cabut dari Indonesia Dinilai Sangat Kecil 

    "Saya yakin tidak ada gunanya membantu ISIS. Buat apa?” ujar Jusuf Kalla sambil terkekeh. Ia yakin, ISIS lebih kaya dari orang yang ingin membantu.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.