Beredar di 2 Kabupaten NTT, Tiga Pencetak Uang Palsu Dibekuk

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi uang palsu. TEMPO/Lazyra Amadea Hidayat

    Ilustrasi uang palsu. TEMPO/Lazyra Amadea Hidayat

    TEMPO.CO, Kupang - Tiga orang pembuat dan pengedar uang palsu di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) diamankan aparat kepolisian resor Kupang, Jumat, 24 Februari 2017. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan uang palsu sebesar Rp36,5 juta dan satu buah mesin printer.

    Ketiga pelaku yang diamankan itu yakni F, M dan A. Modus yang dilakukan pelaku yakni mencetak serta mengedarkan uang palsu yang mencapai puluhan juta rupiah di warung dan kios- kios untuk mendapatkan uang asli.

    Uang palsu yang diproduksi ketiga pelaku itu telah beredar di dua kabupaten dan 1 kotamadya di wilayah NTT yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.
    Baca : BI: Pecahan Uang Baru Tidak Gampang Dipalsu

    Penangkapa terhadap pelaku setelah adanya laporan dari masyarakat terkait maraknya peredaran mata uang pecahan Rp50 ribu dan Rp100 ribu dengan nomor seri yang sama. "Pencetakan uang palsu itu menggunakan foto copy yang diperbanyak, sehingga nomor serinya sama," kata Kasat Reskrim Polres Kupang, Ajun Komisaris Ebed Amalo.

    Polisi menduga mereka telah mencetak uang palsu sebanyak Rp59 juta, namun baru berhasil diamankan sebanyak Rp36,5 juta. Salah satu pelaku berinisial F mengaku mencetak dan mengedarkan uang palsu disekitaran wilayah Kabupaten Kupang sejak Januari 2017.

    Dia mengaku menggandakan uang asli menggunakan mesin printer yang dilengkapi dengan mesin foto kopi. "Saya cetak Rp400 ribu dan ditukar dengan uang asli Rp200 ribu yang digunakan untuk membeli rokok di kios," katanya.

    YOHANES SEO

    Simak pula : Korban Banjir Tol Cikunir, Kartika Menggugat Rp. 2,25 Miliar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.