Kasus Bos Pandawa Group, Begini Lika-liku Bekas Tukang Bubur

Reporter

Editor

Dwi Arjanto

Pimpinan Pandawa Group, Salman Nuryanto, didampingi tim kuasa hukumnya memenuhi panggilan Otoritas Jasa Keuangan, 28 November 2016. Tempo/Vindry Florentin

TEMPO.CO, Depok -Wajah bos Pandawa Group Salman Nuryanto masih melekat diingatan Tihaya, 60 tahun. Pria kurus tersebut dikenalnya sebagai tukang bubur yang pernah mengontrak di salah satu kamar rumahnya di RT3 RW8 nomor 34 Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan.

Yanto -sapaan Salman Nuryanto oleh warga- mulai hijrah ke Sawangan Baru, pada tahun 1997. Semenjak tinggal di sana, dia telah menjadi tukang bubur pikulan, yang keliling di permukiman warga.

"Kenal Yanto sejak menjadi tukang bubur pikulan, pakai gerobak sampai buka tenda sendiri di Sawangan," kata Tihaya di rumahnya, Selasa, 21 Februari 2017.

Baca : Jadi Bos Pandawa Group, Salman Nuryanto Berbusana Ala Diponegoro

Yanto tinggal mengontrak selama setahun di rumahnya. Pada tahun itu, dia hanya mengontrak Rp 35 ribu perbulan. Soalnya, Yanto tidur di kamar yang pernah dijadikan dapur, bersama anaknya.

Warga mengenal Yanto sebagai tukang bubur yang sukses. Soalnya, pria yang memiliki dua orang anak tersebut, berhasil mengembangkan bisnisnya mulai dari usaha bubur, sampai menjadi tajir sebagai bos Pandawa Group.

Padahal, awalnya, usaha bubur Yanto dirintis dengan susah payah. Bahkan, Yanto kerap menghutang modal usaha buburnya di warung dekat rumahnya. "Tapi, memang bayarnya selalu tepat waktu. Mungkin untuk memutar modal dan tabungannya," ujarnya.

Ketika usahanya mulai sukses, dan Yanto mulai mengembangkan investasi dengan iming-iming bunga 10 persen per bulan dari modal, dia sempat kembali lagi ke rumahnya pada 2014. Yanto menawari Tihaya menanam duit ke Pandawa Group.

Namun, Tihaya menolak karena tidak percaya dengan usaha Yanto. Soalnya, Yanto menawarkan untuk memutar duit Tihaya, dan memberinya keuntungan 10 persen per bulan. "Saya tidak mau. Orang saya tahu dia tukang bubur. Masa mau putar duit saya ke orang lain," ujarnya.

Simak juga : Selain Salman Nuryanto, Polisi Juga Tangkap Leader Pandawa

Di mata Tihaya, Yanto merupakan salah satu warga yang baik. Dia kerap membantu berbagai kegiatan warga Sawangan Baru, meski tidak lagi tinggal di Sawangan Baru. Sejak 2013, Yanto mengontrak di salah satu perumahan elit di kawasan Limo, bernama Palam Ganda Asri.

"2015 terakhir datang ke rumah saya dan saya dikasih uang Rp 200 ribu," ujarnya. "Lima bulan lalu Yanto masih sempat bikin video dokumenter perjalanan hidupnya di RT3 RW8 Sawangan Baru."

Anak Tihaya, Hariyanto, 36 tahun, mengatakan usaha Yanto mulai melejit begitu dia menjadi sales obat herbal pada tahun 2011. Setelah sukses di bisnis tersebut, baru Yanto mengebangkan Pandawa Group. "Orang tua saya sempat diminta simpan dana Rp 50 juta di Pandawa Group. Tapi, akhirnya ditolak," ujarnya.

IMAM HAMDI






Dipukuli dan Diancam Dibunuh Ayahnya, Komedian Park Soo Hong Dilarikan ke RS

22 jam lalu

Dipukuli dan Diancam Dibunuh Ayahnya, Komedian Park Soo Hong Dilarikan ke RS

Park Soo Hong dipindahkan ke ruang gawat darurat rumah sakit terdekat setelah pingsan karena stres berat dan syok usai diserang ayahnya sendiri.


Perda Kota Religius Depok Ditolak, Wali Kota: Kami Tidak Mengatur Jilbab dan Salat

1 hari lalu

Perda Kota Religius Depok Ditolak, Wali Kota: Kami Tidak Mengatur Jilbab dan Salat

Wali Kota Depok Mohammad Idris menyatakan tidak gentar untuk tetap melanjutkan pengesahan Perda Kota Religius.


Rancangan Perda Kota Religius Depok Ditolak Kemendagri, Wakil Wali Kota Ingin Tahu Alasannya

2 hari lalu

Rancangan Perda Kota Religius Depok Ditolak Kemendagri, Wakil Wali Kota Ingin Tahu Alasannya

Kemendagri tidak mengabulkan Rancangan Perda Kota Religius Depok dan wakil wali kota ingin tahu alasannya.


Wali Kota Depok Minta Warganya Kibarkan Bendera dan Dengarkan Pidato Nadiem Makarim Hari Ini

4 hari lalu

Wali Kota Depok Minta Warganya Kibarkan Bendera dan Dengarkan Pidato Nadiem Makarim Hari Ini

Wali Kota Depok Mohammad Idris meminta warga dan juga para ASN untuk mengibarkan bendera setengah tiang kemarin. Mendengarkan pidato Nadiem Makarim.


Pimpinan DPRD Depok yang Injak Sopir Truk tetap Terancam Sanksi Meski Sudah Damai

7 hari lalu

Pimpinan DPRD Depok yang Injak Sopir Truk tetap Terancam Sanksi Meski Sudah Damai

Wakil Ketua DPRD Kota Depok Tajudin Tabri tetap terancam sanksi dari Partai Golkar setelah aksinya menginjak sopir truk viral


Korupsi Potong Upah Tenaga Honorer Damkar Depok Masuk Meja Hijau, Ada Sidang Besok

8 hari lalu

Korupsi Potong Upah Tenaga Honorer Damkar Depok Masuk Meja Hijau, Ada Sidang Besok

Kasus dugaan tindak pidana korupsi pada tubuh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok sudah berjalan di meja hijau.


Diinjak Lehernya Saat Dihukum Push Up, Sopir Truk Akhirnya Berdamai dengan Wakil Ketua DPRD Depok

8 hari lalu

Diinjak Lehernya Saat Dihukum Push Up, Sopir Truk Akhirnya Berdamai dengan Wakil Ketua DPRD Depok

Sopir truk Ahmad Misbah akhirnya berdamai dengan Wakil Ketua DPRD Kota Depok Tajudin Tabri. Polisi menyatakan kasus ini telah selesai.


Wakil Ketua DPRD Kota Depok yang Injak Sopir Truk Terancam Dipecat

11 hari lalu

Wakil Ketua DPRD Kota Depok yang Injak Sopir Truk Terancam Dipecat

Wakil Ketua DPRD Kota Depok Tajudin Tabri menginjak sopir truk dan menghukumnya untuk push up


Viral Wakil Ketua DPRD Kota Depok Suruh Push Up Hingga Tendang Supir Truk

11 hari lalu

Viral Wakil Ketua DPRD Kota Depok Suruh Push Up Hingga Tendang Supir Truk

Wakil Ketua DPRD Kota Depok terekam melakukan perbuatan semena-mena terhadap seorang sopir truk.


Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka Tanggapi Sindiran Jubir PKS yang Sebut Kota Solo Termiskin

15 hari lalu

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka Tanggapi Sindiran Jubir PKS yang Sebut Kota Solo Termiskin

Gibran Rakabuming menyatakan penilaian Juru Bicara PKS soal Kota Solo sebagai salah satu daerah termiskin tidak adil.