Terbukti Terima Suap, Irman Gusman Dihukum 4,5 Tahun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman mendengarkan pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang kasus dugaan suap terkait quota gula impor Bulog ke wilayah Sumatera Barat di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, 1 Februari 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman mendengarkan pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang kasus dugaan suap terkait quota gula impor Bulog ke wilayah Sumatera Barat di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, 1 Februari 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJakarta - Mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman dihukum empat tahun enam bulan penjara dengan denda Rp 200 juta subsider tiga bulan kurungan. Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menyatakan Irman terbukti bersalah menerima suap dari pemilik CV Semesta Berjaya.

    "Menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi," kata Ketua Majelis Hakim Nawawi Pamolango saat membacakan putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Senin, 20 Februari 2017.

    Baca: 
    Dituntut 7 Tahun Bui, Irman: Terlalu Tinggi dan Sangat Berat
     
    Disidangkan, Irman Meminta Maaf kepada Warga Sumatera Barat

    Irman terbukti menerima suap Rp 100 juta dari Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto dan Memi. Irman dinyatakan bersalah karena menggunakan pengaruhnya untuk mengatur pemberian kuota gula impor dari Bulog kepada perusahaan milik Xaveriandy. "Majelis hakim berpendapat bahwa hadiah tersebut diberikan agar Irman melakukan atau tidak melakukan sesuatu telah terbukti," kata Nawawi.

    Vonis ini lebih ringan daripada tuntutan jaksa kepada KPK. Jaksa meminta Irman dihukum tujuh tahun penjara dengan denda Rp 200 juta subsider lima bulan.

    Baca juga: 
    Imigrasi Tembagapura: Pekerja Asing Mulai Tinggalkan Freeport

    Pilkada DKI, Pakar: Ahok Perlu Belajar Bicara Eufemisme

    Hal-hal yang meringankan Irman adalah tidak pernah dihukum, menyesali perbuatannya, dan memiliki tanggungan keluarga. Sedangkan pertimbangan yang memberatkan Irman adalah tidak menjalankan amanat sebagai Ketua DPD, tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi, serta tidak berterus terang mengakui kesalahan.

    Selain menjatuhkan pidana, hakim mengabulkan tuntutan jaksa yang meminta agar hak politik Irman dicabut selama tiga tahun setelah ia menjalani pidana pokok. "Menimbang untuk melindungi publik agar terdakwa tidak terpilih kembali sebagai pejabat publik, karena DPD, DPR, MPR merupakan public figure, jadi selayaknya tidak berlaku koruptif. Menetapkan mencabut hak Irman Gusman untuk dipilih dalam jabatan publik selama tiga tahun setelah menjalani hukuman pokok," ujar Nawawi.

    Irman mendengarkan vonis hakim dengan khidmat. Sesekali ia mengangguk. "Saya ucapkan terima kasih atas putusan Yang Mulia, kami memutuskan untuk memikirkan dulu," katanya kepada hakim.

    Sama seperti Irman, jaksa penuntut juga mempertimbangkan untuk banding atas putusan hakim. "Terkait dengan amar putusan, kami memerlukan waktu untuk pikir-pikir," kata jaksa Lie Setiawan.

    Di luar persidangan, Irman mengatakan putusan hakim sesungguhnya sangat berat ia terima. Bagaimanapun, putusan hakim tetap harus dihormati. "Putusan ini tentu berat untuk saya tapi yang penting bagaimana kita mendefinisikan persoalan korupsi ini dengan baik karena ini menyangkut kultur," ujarnya. Namun akhirnya Irman mengatakan menghormati putusan.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.