Wawancara Eksklusif, Antasari: Saya akan Terus Melawan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan ketua KPK, Antasari Azhar berpose dengan buku terbarunya,

    Mantan ketua KPK, Antasari Azhar berpose dengan buku terbarunya, "Antasari Azhar: Saya dikorbankan " di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten, 4 Februari 2015. Buku tersebut berisi kasus yang menimpanya. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.



    Anda merasa terteror?

    Sudah biasa. Di kantor saya ada menyan. Lalu Johan Budi (juru bicara KPK) juga melapor diteror. Istri saya didatangi dua orang sehabis belanja dan mereka mengulang ucapan di telepon. Wajar dong saya peduli.

    BACA JUGA: MA Tolak PK Antasari


    Ada dua saksi yang melihat SMS teror Anda di telepon Nasrudin….

    Hasil teknologi menunjukkan selama Februari saya tak pernah mengirim SMS kepada Nasrudin. Dua saksi itu waktu di pengadilan seperti ada yang menyetir. Jeffry Lumampouw seperti orang sakit. Lalu Etza belum ditanya sudah menangis. Waktu pengacara saya tanya, yang menjawab jaksa.

    Staf KPK mengaku mendengar Anda mengatakan ”dia atau saya yang mati”. Benar itu ucapan Anda?

    Dia itu siapa? Ini kesaksian Budi Ibrahim (Direktur Pengolahan Informasi dan Data KPK) dan Ina Susanti (analis informasi). Waktu itu ceritanya, saat saya ngobrol dengan Ina, Pak Bibit Samad Rianto (Wakil Ketua KPK) pingsan di ruangannya. Saya bilang, wah, ini cobaan berat. Waktu itu kami sedang meneliti kasus teknologi informasi di Komisi Pemilihan Umum, upah pungut di Kementerian Dalam Negeri, dan korupsi pengadaan radio komunikasi di Kementerian Kehutanan. Juga korupsi RNI yang dilaporkan Nasrudin. Saya minta terus dipantau karena yang jadi tersangka kok direktur keuangan. Seharusnya direktur utama juga.

    Jadi siapa yang mengatakan ”dia atau saya yang mati”?

    Itu pengakuan Ina di sidang. Dia seperti disetel. Waktu Pak Bibit pingsan, saya hanya bilang, ”Kita harus konsentrasi ke Pak Bibit.” Penekanan kalimat itu diartikan saya merencanakan pembunuhan.

    Pertemuan di rumah Sigid Haryo Wibisono itu membicarakan apa?

    Dia menelepon minta saya mampir. KPK dan Harian Merdeka sedang bekerja sama dalam rubrik Publik Bertanya KPK Menjawab. Sigid mengenalkan Wiliardi Wizar. Tak ada pembicaraan apa-apa kok disebut merencanakan pembunuhan?

    Tapi ada amplop yang isinya uang dan foto Nasrudin….

    Soal amplop baru muncul saat rekonstruksi. Saya protes, ”Sigid apa-apaan ini?” Penyidik bilang amplop itu pernyataan Sigid. Saya tidak teken berkas rekonstruksi. Sigid sudah disetel. Targetnya saya.

    Anda selalu bilang disetel. Siapa menyetel?

    Begini. Waktu kantor saya digeledah, polisi membawa tiga bundel berkas laporan masyarakat: BLBI, laporan teknologi informasi KPU, dan satu lagi saya lupa. Berkas itu tak dikembalikan lagi. Saya heran kenapa cuma tiga itu yang diambil dan yang lain tidak.

    Kenapa Anda baru mengungkap sekarang?

        Saya menunggu hasil uji hakim di pengadilan banding dan kasasi. Sekarang saya bisa teriak kasus saya direkayasa. Kalau hakim pakai nurani, mereka akan membongkar telepon saya. Mereka akan tahu saya tak mengirim SMS ke Nasrudin. Juga baju Nasrudin, di mana sekarang? Hasil uji balistik dan forensik menunjukkan peluru dan pistolnya janggal.

    Apa benar Anda menyimpan rekaman percakapan petinggi republik ini dengan seorang pengusaha dalam kasus teknologi informasi KPU?

    Wah, ini pertanyaan nakal. (Diam sesaat.) Saya belum mau omong dulu.

    ***



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.