Harry Tjan Silalahi: Kita Jangan Sampai Ketularan Sektarian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Harry Tjan Silalahi. TEMPO/Seto Wardhana

    Harry Tjan Silalahi. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menginjak usia ke-83 tahun, Harry Tjan Silalahi masih menyimpan harapan bagi Indonesia. Pengamat politik dan salah satu pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS) itu berharap pemilihan kepala daerah serentak melahirkan pemimpin yang berkarakter.

    "Saya harap Pilkada akan terkonsolidasi, mendapat tokoh atau pemimpin yang punya integritas tinggi," kata Harry saat ditemui di Gedung CSIS, Jakarta, Jumat, 17 Februari 2017. Di sisi lain ia bersyukur Pilkada serentak gelombang dua berjalan dengan tertib dan lancar.

    Meski demikian ia memberi catatan khusus kepada para pihak yang terlibat dalam Pilkada. Ia meminta isu suku, agama, ras, dan antargolongan bisa ditekan ke depannya. Menurut dia, seharusnya para elit politik lebih mengedepankan aspek nation building saat menjual kandidat yang diusung.

    Harry mengatakan Pilkada hanya cara untuk meraih kemakmuran atau cita-cita memajukan masyarakat menjadi lebih baik. Oleh sebab itu, isu sektarian harus dihindari. "Saya harap itu nanti pelan-pelan hilang. Kecakapan dan integritas, itu yang kita perlu," ucap pria kelahiran Yogyakarta, 11 Februari 1934 itu.

    Harry Tjan merupakan tokoh politik yang sempat duduk sebagai Ketua Komisi I DPR periode 1967-1971. Ia juga pernah menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Agung periode 1978-1983.

    Lebih lanjut, masyarakat Indonesia bisa belajar dari Amerika Serikat. Negara yang berpengalaman dalam hal penerapan demokrasi saat ini dianggap keliru memilih pemimpin. Harry berpandangan pemimpin Amerika Serikat saat ini terlalu sektarian. "Kita jangan sampai ketularan," kata dia.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.