Muhammadiyah: Aksi Bela Islam Bukan oleh Islam Garis Keras  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Haedar Nashir. TEMPO/Pius Erlangga

    Haedar Nashir. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menerima kunjungan 23 Duta Besar Uni Eropa di kantornya pada Selasa sore, 14 Februari 2017. Haedar mengatakan para duta besar tersebut ingin mengetahui perkembangan situasi Indonesia terkini dan perkembangan umat Islam di Indonesia.

    ”Berkembang opini, di Indonesia itu sekarang yang muncul fenomena Islam garis keras,” tutur Haedar di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.

    Baca juga: Muhammadiyah Bantah Ahok Soal Pilih Pemimpin Berdasar Agama

    Haedar mengatakan ada kekhawatiran kelompok Islam moderat di Indonesia tidak mengambil peran. “Kami sampaikan itu asumsi yang keliru,” ujar Haedar.

    Haedar menjelaskan kepada para duta besar tersebut bahwa serentetan aksi bela Islam yang terjadi di Jakarta tidak dilakukan oleh kelompok Islam garis keras. Menurut dia, jika aksi tersebut dilakukan kelompok garis keras, tentu akan terjadi kerusuhan.

    Haedar juga menjelaskan bagaimana peran Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Majelis Ulama Indonesia untuk menjaga agar aksi tersebut berjalan damai dengan menemui presiden dan tokoh-tokoh lain.

    ”Kami sampaikan Insya Allah Islam di Indonesia adalah Islam yang moderat dan toleran,” kata Haedar.

    Selain mendiskusikan perkembangan Islam di Indonesia, pertemuan tersebut membahas kerja sama antara Uni Eropa dan Muhammadiyah.

    DENIS RIANTIZA | TSE



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fakta-fakta Pelantikan Jokowi - Ma'ruf, Dihadiri Prabowo - Sandi

    Selain beberapa wakil dari berbagai negara, pelantikan Jokowi - Ma'ruf ini dihadiri oleh Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.