Minggu, 21 Oktober 2018

Pilkada 2017: Aceh, Papua dan Banten Paling Rawan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Badan Pengawas Pemilu (bawaslu) DKI Jakarta mengadakan simulasi pengawasan pemilu partisipatif dengan memanfaatkan teknologi di Kantor Bawaslu DKI Jakarta, Jakarta Utara, Rabu, 8 Februari 2017. TEMPO/Lani Diana.

    Badan Pengawas Pemilu (bawaslu) DKI Jakarta mengadakan simulasi pengawasan pemilu partisipatif dengan memanfaatkan teknologi di Kantor Bawaslu DKI Jakarta, Jakarta Utara, Rabu, 8 Februari 2017. TEMPO/Lani Diana.

    TEMPO.CO, Jakarta -  Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memastikan akan mengantisipasi kerawanan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2017 di semua daerah, bukan hanya di DKI Jakarta. Anggota Bawaslu, Nelson Simanjuntak, mengatakan timnya telah memerintahkan Panitia Pengawas meningkatkan supervisi di daerah-daerah pemilihan yang tergolong rentan terjadi politik uang dan kekurangan logistik. "Kami juga telah bekerja sama dengan Polri dan TNI agar menambah pengamanan di daerah rawan konflik," kata Nelson kepada Tempo, Jumat 10 Februari 2017.

    Nelson mencontohkan pilkada Aceh yang tergolong rawan karena punya sejarah konflik. Bawaslu mencatat tindak kekerasan terjadi di Bumi Serambi Mekah dalam penyelenggaraan pemilu sebelumnya. Bawaslu juga menganggap Banten, yang tahun ini menggelar pemilihan gubernur, rawan karena memiliki indeks demokrasi yang rendah. "Kita tahu, Banten, unsur politik dinastinya masih sangat kental," ujarnya.

    Baca juga: Aksi 112, Ketua PBNU Tahu Siapa Penggerak dan Tujuannya

    Pilkada akan digelar serentak pada Rabu mendatang di 101 daerah pemilihan, diikuti oleh sedikitnya 41,2 juta pemilik hak suara. Warga di tujuh provinsi, yaitu Aceh, Banten, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Papua Barat, akan memilih calon gubernur. Adapun pemilihan wali kota dan bupati digelar di 18 kota dan 76 kabupaten.

    Sejak semula, Bawaslu telah menempatkan tiga daerah, yakni Aceh, Banten, dan Papua, sebagai daerah dengan indeks kerawanan tertinggi. Selasa lalu, dalam rapat koordinasi persiapan akhir pilkada di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, Badan Intelijen Negara menyatakan Papua dan Aceh termasuk daerah dengan tingkat kerawanan tertinggi dalam pilkada karena merupakan wilayah konflik.

    Di Papua, pemilihan gubernur hanya digelar di Provinsi Papua Barat. Namun 11 daerah lain di Provinsi Papua juga akan menggelar pilkada untuk memilih wali kota dan bupati.

    Adapun Aceh tak hanya memilih calon gubernur, tapi juga 20 bupati dan wali kota. Selain itu, pilkada Aceh dinilai rawan karena melibatkan partai lokal.

    Baca juga: Begini Cara Jokowi Populerkan Kuliner Bakso di VLOG Youtube

    Partai Aceh, misalnya, dalam pemilihan gubernur berkoalisi dengan Gerindra, PBB, dan PKS menyokong pasangan Muzakir Manaf-T.A Khalid. Adapun Partai Nasional Aceh dan Partai Damai Aceh berkoalisi dengan Partai Demokrat, PKB, dan PDI Perjuangan mencalonkan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah. Mereka akan melawan empat pasangan calon lainnya, yaitu Tarmizi A. Karim-Machsalmina Ali (Golkar, NasDem, PPP), Zakaria Saman-T. Alaidinsyah, Abdullah Puteh-Sayed Mustafa Usab Al-Idroes, dan Zaini Abdullah-Nasaaruddin. Tiga pasangan terakhir merupakan calon perseorangan alias non-partai.

    Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri, Komisaris Jenderal Lutfi Lubihanto, menyatakan akan mengerahkan lebih dari 113 ribu personel untuk pengamanan pilkada 2017, yang terdiri atas 71.969 anggota Polri dan 41.585 personel Brigade Mobil. TNI membantu pengamanan dengan menyiapkan 13 ribu personel dan 199 ribu anggota satuan perlindungan masyarakat. Total pengamanan gabungan ini diperkuat oleh 325 ribu personel. “Kami berkomitmen menyukseskan pilkada,” ujarnya.

    MITRA TARIGAN | DEWI SUCI RAHAYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.