Beredar Isu Tsunami, Penduduk Kabupaten Sikka Panik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tsunami. greenpacks.org

    Ilustrasi tsunami. greenpacks.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga Desa Wuring Ujung, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) panik setelah beredarnya isu tsunami yang dihembuskan orang yang tak bertanggungjawab. Warga yang panik berlarian meninggalkan rumah mereka sambil membawa sejumlah barang seadanya.

    Tim SAR Maumere yang mendapat laporan itu mendatangi lokasi dan menyelamatkan seorang warga yang cacat yang masih tertinggal di rumahnya. "Tidak tahu, siapa yang menghembuskan isu ini sehingga semua warga lari meninggalkan rumah," kata Viki, warga Sikka yang dihubungi Tempo, Rabu, 8 Februari 2017.

    Baca: Dihantam Gelombang, Kapal Nelayan di Ternate ...

    Desa Wuring Ujung merupakan salah satu desa yang seluruh penduduknya tinggal di rumah panggung di pesisir pantai. Sudah sepekan ini gelombang pasang melanda wilayah itu. Namun warga setempat enggan mengungsi.

    Baca: BMKG: Waspadai Gelombang 4 Meter Perairan Sangihe ...

    Dengan beredarnya isu tsunami itu, hampir seluruh warga desa Wuring Ujung bersedia dievakuai ke tempat yang lebih aman. Tagana Sikka dan Basarnas membantu proses evakuasi warga.

    Evakuasi sempat mengalami kesulitan, karena jalur evakuasi hanya melalui jembatan penghubung tradisionil yang terbuat dari bambu. Jembatan ini merupakan sarana transportasi dari satu rumah panggung ke rumah panggung lain atau ke daratan.

    Warga di kampung ujung akhirnya diinapkan sementara di Masjid Ar Rahmat yang tidak jauh dari kampung itu. Namun warga masih ketakutan untuk kembali ke rumah mereka. Kabupaten Sikka pernah dilanda Tsunami pada 1992, sehingga isu tsunami itu membuat warga panik dan berlarian meninggalkan rumah.

    YOHANES SEO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?