Korupsi Hambalang, KPK Periksa Choel Mallarangeng  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Hambalang Andi Zulkarnain Mallarangeng alias Choel Mallarangeng, usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, 1 Desember 2016. Adik bekas Menpora Andi Alifian Mallarangeng, diduga mengambil uang negara sebesar Rp 2 miliar dan 550 ribu Dolar As, dengan memanfaatkan jabatan kakaknya. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Tersangka kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Hambalang Andi Zulkarnain Mallarangeng alias Choel Mallarangeng, usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, 1 Desember 2016. Adik bekas Menpora Andi Alifian Mallarangeng, diduga mengambil uang negara sebesar Rp 2 miliar dan 550 ribu Dolar As, dengan memanfaatkan jabatan kakaknya. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi menjadwalkan pemeriksaan terhadap tersangka dugaan korupsi pembangunan Stadion Hambalang tahun 2010-2012, Andi Zulkarnaen Mallarangeng alias Choel Mallarangeng, Senin, 6 Februari 2017. "Diperiksa sebagai tersangka," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, Senin, 6 Februari 2017.

    Choel ditetapkan sebagai tersangka pada Desember 2015. Adik mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng itu diduga melawan hukum dan menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi terkait dengan proyek sarana olahraga tahun anggaran 2010-2012 yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat, tersebut.

    Choel dijerat Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

    Perkara yang menjerat Choel ini merupakan pengembangan penyidikan proyek Hambalang. Kasus ini telah menjerat sejumlah nama sebagai tersangka, di antaranya Andi Mallarangeng serta mantan Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kementerian Olahraga Deddy Kusdinar.

    Andi telah divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 2 bulan kurungan. Politikus Partai Demokrat ini dinilai terbukti menerima aliran fee proyek Hambalang sebesar US$ 550 ribu dari PT Adhi Karya, rekanan proyek. Uang tersebut diterima Andi melalui Choel.

    Fee tersebut merupakan imbal balik setelah PT Adhi Karya diloloskan sebagai pemenang tender proyek Hambalang. Akibat perbuatan Andi, hakim menilai negara merugi Rp 461 miliar dari proyek berbiaya Rp 1,175 triliun tersebut.

    Selain itu, Andi melalui Choel mendapatkan fee Rp 2 miliar dari pemilik PT Global Daya Manunggal, Nani Al Rusli dan Herman Prananto. Pemberian duit ini merupakan imbalan karena PT Global Daya menjadi subkontraktor Hambalang.

    Choel telah mengembalikan uang sebesar US$ 550 ribu kepada KPK. Sedangkan uang sebesar Rp 2 miliar dikembalikan Choel kepada Herman Pranoto. Kemudian Herman menyerahkan duit tersebut kepada KPK.

    MAYA AYU PUSPITASARI | LINDA TRIANITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.