Revitalisasi Bandara Syamsudin Noor Rampung Awal 2019

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan, Gubernur Kalsel Rudy Ariffin dan Direktur Utama PT Angkasa Pura I Tommy Soetomo memencet tombol peresmian pemancangan tiang pertama pengembangan Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, 18 Mei 2015. ANTARA/Herry Murdy Hermawan

    Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan, Gubernur Kalsel Rudy Ariffin dan Direktur Utama PT Angkasa Pura I Tommy Soetomo memencet tombol peresmian pemancangan tiang pertama pengembangan Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, 18 Mei 2015. ANTARA/Herry Murdy Hermawan

    TEMPO.CO, Banjarbaru - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, meminta PT Angkasa Pura I lekas mengerjakan proyek revitalisasi Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru mulai Maret mendatang. Budi menargetkan proyek revitalisasi bandara rampung pada awal 2019.

    Menurut Budi, Kota Banjarmasin dan Provinsi Kalimantan Selatan punya potensi terus berkembang karena cukup dinamis. Ia sudah sepakat atas grand design bandara baru karena mengadopsi budaya Banjar ditambah sentuhan modern. “Banjarmasin satu kota yang luar biasa, ada kewajiban negara melalui Angkasa Pura I untuk menghadirkan bandara yang bisa melayani seluruh masyarakat,” kata Menteri Budi saat meninjau Bandara Syamsudin Noor, Ahad 5 Februari 2017.

    Budi menuturkan, kontraktor akan menambah daya tampung bandara dari 1,3 juta orang menjadi 12 juta orang per tahun. Ia optimistis bandara baru dengan kapasitas 12 juta penumpang itu memicu tumbuhnya perekonomian daerah dan pergerakan penumpang.

    “Pengerjaan proyek harus konservatif karena tanah di sini gambut. Saya harap selesai awal 2019 sekaligus jalan baru yang sudah terbangun,” ujar dia.

    Pimpinan Proyek Revitalisasi Bandara Syamsudin Noor, Taochid Purnomo Hadi, optimistis secepatnya proyek revitalisasi digarap karena Angkasa Pura I bakal menentukan pemenang tender dalam seminggu ke depan. Ia berharap tidak ada keberatan dari peserta tender atas penetapan kontraktor pelaksana saat masa sanggah.

    Untuk tahap awal, kata Taochid, pihaknya menggarap paket II yang mencakup infrastruktur, bangunan penunjang, dan apron dengan nilai proyek Rp 900 miliar. Setelah tender paket II beres, Taochid melanjutkan tender pengerjaan paket I yang mencakup revitalisasi terminal dengan nilai proyek Rp 1,4 triliun. “Jadi awal Maret, sudah ada kontraktor yang mengerjakan paket II di lapangan,” ujar dia.

    Ia meyakini pengerjaan kedua paket proyek revitalisasi bandara itu rampung pada akhir tahun 2018. Menurut Tacohid, Angkasa Pura I telah mengantongi nama calon pemenang tender tahap II dari kontraktor swasta, yakni PT Nusa Konstruksi Engineering. Adapun calon pemenang kedua ditempati PT Adhi Karya dan PT PP sebagai calon pemenang ketiga.

    “NK ini sudah berpengalaman dimana-mana, bangun bandara besar. Kendala yang utama terkait pelelangan terbuka, baik swasta dan pemeritah. Kami minta legal opinion dari kejaksaan bagaimana kalau swasta menang,” kata dia. Itu sebabnya, proses tender begitu menyita waktu karena Angkasa Pura sempat mengalami preseden buruk saat kontraktor swasta membangun proyek bandara.

    Sementara itu, General Manager Syamsudin Noor, Handy Heryuditiawan, menyatakan saat ini pembayaran ganti rugi lahan menyisakan 50 bidang dari 69 bidang konsinyasi di Pengadilan Negeri Banjarbaru. Ia menolak pembebasan lahan sebagai kendala utama proyek revitalisasi bandara.

    “Kami tidak bisa mengubah tuntutan warga, kami mohon maaf sekali. Angka sudah diputuskan dalam ganti rugi tersebut,” kata Handy.

    Bandara Syamsudin Noor saat ini masih berkapasitas 1,3 juta orang per tahun. Adapun pergerakan penumpang selalu menunjukan tren kenaikan setiap tahun. Pada 2016 lalu, Handy mencatat realisasi pergerakan penumpang sebanyak 3,6 juta orang di Syamsudin Noor.

    DIANANTA P. SUMEDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.