Din Syamsudin Sebut Pertemuan Luhut dan Ma`ruf Amin Tak Elok  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin (tengah) bersama sejumlah perwakilan dari Ormas/ Lembaga Islam (Soli) mengadakan silaturahmi dan konferens pers di kantor DPP Muhammadiyah, Jakarta, 16 November 2016. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin (tengah) bersama sejumlah perwakilan dari Ormas/ Lembaga Islam (Soli) mengadakan silaturahmi dan konferens pers di kantor DPP Muhammadiyah, Jakarta, 16 November 2016. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin bertemu dengan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Salah satu yang dibicarakan adalah pertemuan Luhut dengan Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin.

    "Ya selintas tadi (membicarakannya), karena saya termasuk yang mengkritik kurang eloknya pertemuan itu," kata Din Syamsudin saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta Pusat, Jumat 3 Februari 2017.

    Din Syamsudin mengatakan, pertemuan Luhut dengan Ma'ruf Amin kurang elok, alasannya karena dalam kondisi jeda satu hari setelah ada masalah di pengadilan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Namun, kata Din, Luhut menjelaskan bahwa semua itu kebetulan dan dia sudah lama ingin bertemu Ma'ruf.

    Baca:

    SBY Merasa Disadap, Demokrat Bergerak Usulkan Hak Angket
    Kalla Yakin Jokowi Terima SBY Setelah 15 Februari

    Lebih lanjut, Din menyatakan, kedatangannya sebagai sahabat. Sebab, sebelumnya Luhut sudah pernah datang ke kantornya dan juga sudah kenal sejak era Gus Dur (Presiden Abdurrahman Wahid). 

    Din mengungkapkan dirinya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI mulai bulan ini akan mengintensifkan dialog dengan berbagai pihak. Terlebih dengan Luhut yang memegang posisi penting di pemerintahan, dan juga orang yang dekat dengan Presiden. "Saya dorong pemerintah jalin komunikasi substantif dengan masyarakat."

    Din menyatakan ada urgensi mengadakan dialog antar pemimpin bangsa, karena bangsa sedang terpecah belah. Karena memang masih ada residu dari Pilpres 2014 yang membuat bangsa terpecah, ditambah dengan masalah hukum Gubernur DKI non aktif.

    Menurut Din, masyarakat sudah bisa memilah bahwa masalah yang membelit Basuki Tjahaja Purnama bukanlah permasalahan agama ataupun etnis tertentu, melainkan masalah hukum. Sehingga dia melihat jalan keluarnya adalah penegakkan hukum.

    DIKO OKTARA

    Baca juga: Ketua PBNU Sebut Ahok Rugi karena Berpolemik dengan Ma'ruf  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.