Menteri Agama: Masyarakat Harus Menghargai Pemuka Agama

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin meresmikan peluncuran Al Quran terjemahan bahasa daerah dan Ensiklopedia pemuka agama nusantara di Gedung Kemenag Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Senin, 19 Desember 2016. Tempo/Dwi Herlambang (magang)

    Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin meresmikan peluncuran Al Quran terjemahan bahasa daerah dan Ensiklopedia pemuka agama nusantara di Gedung Kemenag Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Senin, 19 Desember 2016. Tempo/Dwi Herlambang (magang)

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai masyarakat Indonesia sangat religius. Karena itu, dia menilai wajar apabila para pemuka agama mendapat tempat khusus di tengah kahidupan masyarakat.

    Untuk itu, Lukman mengajak semua pihak untuk menjaga marwah dan martabat para pemuka agama. “Di negeri yang mayoritas muslim ini, kita harus benar-benar menjaga kehormatan ulama dan kiai,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 2 Februari 2017.

    Baca juga: Ahok Minta Maaf: Luhut, Kapolda, dan Pangdam Temui Ketua MUI

    Secara khusus, Lukman mengajak para elit di negeri ini untuk selalu menjunjung tinggi agama, menjaga simbol-simbol agama, dan menghormati para pemuka di setiap agama. Menurut dia, salah satu bentuk penghormatannya dengan tidak mempermalukan para pemuka agama.

    Lukman menambahkan, apabila ada pihak yang mempermalukan pemuka agama maka sangat berisiko. Misalnya, menimbulkan gejolak dan kegaduhan yang semakin bertolakbelakang dengan persatuan dan kesatuan bangsa. “Energi pun akan terkuras ke arah yang tak semestinya,” kata dia. Hal itu, menurutnya, nantinya justru akan menghambat pembangunan nasional.

    Lukman menegaskan bahwa Indonesia bukan negara agama. Namun, dia melanjutkan, agama menempati posisi penting dalam sejarah perjalanan bangsa. Pesan agama juga mewarnai dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, konsep Bhinneka Tunggal Ika juga mengandung pesan keagamaan yang kuat, yaitu pentingnya menghargai keragaman karena merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

    Simak pula: Kasus Ahok, Santri Jombang Minta Semua Pihak Menahan Diri  

    Lukman menilai Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah pemaknaan dari kesadaran bersama untuk terus menjaga persatuan bangsa dan negara. Sebab, Tanah Air merupakan bagian dari nilai keimanan dalam beragama.

    Ia juga mengajak agar masyarakat menahan diri dari tindakan provokatif dan memecah belah. Potensi benturan umat dengan elit negara harus dihindari karena tidak produktif bagi perjalanan negeri. “Semua harus bersinergi dalam usaha bersama membangun bangsa,” kata dia.

    Lukman beranggapan sekarang adalah saatnya elit dan umat bersatu. Elit negara harus bekerja sesuai mandat yang diamanahkan dan menjadi teladan dalam bersikap. Sementara itu, umat mendukung dan percaya sambil terus mengawasi. Dan ulama harus dijunjung oleh umara (pemimpin) karena mereka adalah pembimbing umat.

    Namun, apabila ada persoalan, umat beragama selayaknya mengedepankan sikap saling memaafkan. “Ketua Umum MUI yang juga Rois Am PBNU Kiai Haji Ma'ruf Amin telah memberikan contoh tentang pentingnya sikap saling memaafkan,” ujar Lukman. Menurut dia, teladan seperti itulah yang harus didorong dan dikembangkan. Harapannya, kata Lukman, ulama dan umat bisa bersinergi mengingkatkan kualitas kehidupan bersama.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.