Ansor Jatim Gerakkan Netizen NU Tangkal Hoax

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anti-hoax

    Ilustrasi anti-hoax

    TEMPO.CO, Surabaya - Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur mengumpulkan para pengguna internet atau netizen untuk menangkal berita-berita palsu yang kerap muncul hingga menyebabkan konflik.

    "Kami tidak ingin masyarakat menelannya mentah-mentah dan terjebak dengan pemberitaan palsu," kata Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi PW GP Ansor Jatim M. Nur Arifin di sela "Kopdar" Netizen NU Jatim di Surabaya, Minggu 29 Januari 2017.

    Sebanyak 200 pemuda yang terdiri dari berbagai komunitas pengguna internet dan pengurus Ansor se-Jatim dikumpulkan untuk menyamakan persepsi hingga membentuk sebuah wadah yang menjadi virtual dakwah dan bertugas memantau informasi berkembang.


    Baca juga:

    Isu Penolakan Rizieq, Bachtiar Nasir: Jangan Terprovokasi
    Politik Indonesia di Tahun Ayam Membangun atau Menghancurkan

    "Kalau ditemukan ada informasi yang mengarah ketidakbenaran maka akan ditindaklanjuti dan segera diluruskan agar masyarakat tahu mana yang benar dan tidak," ucap Wakil Bupati Trenggalek itu.

    Dalam kesempatan tersebut, hadir Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal yang mengaku bangga dan memberikan apresiasi kepada Ansor Jatim karena telah membentuk tim "cyber" khusus menangkal berita palsu.

    "Dengan adanya tim ini maka informasi-informasi yang tersebar di sosial media dapat diluruskan. Ini sangat penting agar tak terjadi hal yang tak diinginkan," katanya.

    Mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut berpesan ada beberapa hal yang harus dilakukan menyikapi informasi yang tidak jelas sumbernya, yaitu menelis narasi balik, konsolidasi pengguna internet NU agar terintegrasi serta memiliki komitmen berakhlakul karimah.

    Baca juga:
    Presiden Joko Widodo Menonton Film Security Ugal-Ugalan
    Riset: Jakarta Masuk 5 Besar Provinsi Intoleransi Keagamaan

    Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang hadir pada kesempatan tersebut berharap perkumpulan ini mampu membangkitkan kesadaran masyarakat NU dan masyarakat umum untuk selektif terhadap informasi yang beredar di sosial media.

    Menurut dia, ada tiga hal yang harus dilakukan menangkal berita tidak benar, pertama menutup situs, kedua adalah membangun kesadaran masyarakat, dan terakhir narasi balik.

    "Berdasarkan survei lembaga tertentu, penutupan situs-situs media sosial hanya 30 persen dampaknya sehingga yang terpenting perlu ada kesadaran dari masyarakat dan membuat narasi balik," kata Gus Ipul, sapaan akrabnya.

    Pria yang juga salah seorang Ketua PBNU ini meyakini ke depan informasi berita palsu tidak akan laku seiring dengan semakin kritisnya masyarakat.

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?