Imlek dan Makna Tradisi Melepas Burung Pipit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak membakar dupa bersama ibunya saat  berdoa tahun baru Imlek di klenteng Xiangma Makassar, Sulawesi Selatan, 28 Januari 2017. TEMPO/Iqbal Lubis

    Seorang anak membakar dupa bersama ibunya saat berdoa tahun baru Imlek di klenteng Xiangma Makassar, Sulawesi Selatan, 28 Januari 2017. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Makassar-- Warga Tionghoa punya tradisi melepas burung pipit pada saat perayaan tahun baru China atau Imlek. Sebab, menurut mereka burung pipit tersebut memiliki makna dalam perayaan Imlek yakni memohon ampunan kepada yang kuasa.

    "Melepas burung pipit memiliki arti tersendiri dalam kepercayaan kami," kata Pengurus Kelenteng Xian Ma, Rubiyanto di Jalan Sulawesi, Makassar, Jumat, 27 Januari 2017.

    Menurut dia, ritual melepas hewan ke alam liar dipercaya memberikan pengaruh kepada peruntungan dan kehidupan. Hal tersebut harus dilakukan dengan sikap belas kasih untuk menjaga keseimbangan alam.

    Baca juga:
    Politik Indonesia di Tahun Ayam,Membangun atau Menghancurkan
    Hadir dalam Debat Pilkadi DKI, Antasari Azhar Merapat ke PDIP?

    Rubiyanto menjelaskan bahwa berdasarkan kisah yang ditulis dalam kitab Lie zi, tradisi membeli dan melepaskan binatang dikenal dengan sebutan Fang Sheng. Itu sudah dilakukan di Tiongkok sejak 2.300 tahun silam.

    Ia menjelaskan makna dari burung pipit ini yang dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar Jalan Sulawesi. Sebab kawasan tersebut mayoritas dihuni warga Tionghoa. "Jadi mereka manfaatkan menjual di sekitar vihara atau kelenteng untuk keperluan ritual Fang Sheng," tutur dia.

    Menurut pedagang burung pipit, Daeng Sila 32 tahun, dirinya memang sengaja menjual ratusan burung pipit menyambut tahun ayam api ini. Apalagi, kata dia, saat ini yang terjual melonjak sampai 10 kali lipat dibandingkan hari biasa. "Sejak Senin lalu saya menjual di sini," ucap Sila. Menurut dia, sekitar 5.000 ekor yang sudah terjual karena dalam sehari biasa pulang balik dua sampai tiga kali.

    Simak juga:
    Isu Penolakan Rizieq, Bachtiar Nasir: Jangan Terprovokasi
    Menlu Imbau WNI Tenang Hadapi Kebijakan Imigrasi Trump

    Ditanya soal lokasi penangkapan burung pipit, Sila mengaku bersama rekan-rekannya mencari di sawah di Kabupaten Jeneponto dengan menggunakan jaring khusus. "Inilah rejeki musiman karena warga China anggap ini simbol sebagai pelepas dosa," tutur dia. Terkait harga, Sila menjual burung pipit ini Rp 3.000 per ekor khusus Imlek. Sebab, kata dia, jika dibandingkan hari biasa dijual seharga Rp 1.000 per ekor.

    DIDIT HARIYADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.