Panitia Diksar Mapala UII: Materi Survival Ada SOP-nya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi lakukan olah tkp kasus mapala uii di watu lumbung, tempat diksar mapala uii, kamis 26 januari 2017. TEMPo/Ahmad Rafiq

    Polisi lakukan olah tkp kasus mapala uii di watu lumbung, tempat diksar mapala uii, kamis 26 januari 2017. TEMPo/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Ketua Panitia Pelaksana Pendidikan Dasar The Great Camping XXXVII Mapala Unisi UII Yogyakarta, Wildan Nuzula menjelaskan mengenai materi survival yang digelar di lereng Gunung Lawu, Desa Tlogodlingo, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Materi itu berlangsung pada 18-20 Januari 2017.

    Sebelum kegiatan itu, peserta harus menjalani tes kesehatan pada 17 Januari 2017. Berdasarkan hasl tes yang dilakukan anggota Mapala Fakultas Kedokteran Universitas 11 Maret Surakarta (UNS) pada malam hari itu, Syaits Asyam - salah satu dari tiga mahasiswa yang tewas dalam kegiatan ini- tidak direkomendasikan ikut survival.

    Baca: Panitia Diksar Mapala UII: Asyam Tidak Ikut Materi Survival

    “Materi survival ada SOP-nya,” kata Wildan saat menyampaikan keterangan pers di ruang sidang Gedung Pascasarjana Fakultas Hukum UII di Jalan Cik Dik Tiro Yogyakarta, Jumat, 27 Januari 2017.

    Setelah mengikuti tes kesehatan, pada 18 Januari 2017, peserta diarahkan ke lokasi materi survival. Logistik yang dibawa dari rumah dititipkan kepada panitia. Sebab, salah satu prosedur mengikuti survival, peserta hanya diperbolehkan memabwa satu jerigen air, peralatan masak seperti nesting, kompor, bahan bakar padat, garam, benda tajam untuk memotong dan alat makan. “Survival yang dilakukan peserta adalah yang tidak berpindah tempat atau survival statis,” kata Wildan.

    Baca: Pengacara Mapala UII: Polisi Belum Periksa Panitia  

    Dalam survival statis, peserta membangun flying camp di lokasi yang sudah ditentukan. Peserta mencari makan di sekitar flying camp. “Kami beri string line atau batasan wilayah peserta untuk mencari makanan,” kata Wildan.

    Makanan yang dimaksud adalah jenis-jenis tumbuhan dan hewan yang bisa dimakan. Jenis-jenis itu telah dipelajari peserta ketika materi kelas. Peserta makan tiga kali sehari. Instruktur operasional tiap regu mengontrol makanan peserta. Sebelum jam makan, peserta diarahkan untuk mencari makanan. “Sampai peserta mau makan apa, tetap didampingi. Tidak dilepas bebas,” kata Wildan.

    PITO AGUSTIN RUDIANA

    Simak pula:
    Debat Pilkada DKI, Anies: Pemimpin Merangkul, Bukan Memukul
    Ditolak di Surabaya, Rizieq Syihab Pilih Pergi ke Lombok

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.