Tuduhan Penyelundupan Senjata di Sudan, Polri: Itu Janggal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 140 personil pasukan Formed Police Unit (FPU) IV ikuti acara pembaretan di Pantai Teluk Naga, Tangerang, (5/11). Pasukan tersebut yang akan ditugaskan ke Darfur Sudan sebagai misi penjaga perdamaian PBB. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    140 personil pasukan Formed Police Unit (FPU) IV ikuti acara pembaretan di Pantai Teluk Naga, Tangerang, (5/11). Pasukan tersebut yang akan ditugaskan ke Darfur Sudan sebagai misi penjaga perdamaian PBB. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar menilai kasus penyelundupan senjata api yang dituduhkan Sudan terhadap Formed Police Unit (FPU) 8, satuan tugas Polri untuk misi perdamaian PBB merupakan kejanggalan. “Sesuatu yang aneh, kenapa barang itu sudah ada di bandara,” kata dia dia di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta, Kamis, 26 Januari 2017.

    Boy mengatakan seharusnya pasukan FPU sudah harus kembali ke Tanah Air dua hari lalu karena sudah selesai menjalankan tugas dan ada tim yang sudah diberangkatkan. Ia mengatakan setiap barang yang dibawa oleh FPU pasti melalui alat deteksi logam di bandara. Menurut dia, senjata api tersebut sudah ada di dalam bandara kemudian disatukan bersama barang dari kontingen FPU.

    Boy menilai hal itu adalah kejanggalan. “Kami perlu cari tahu apa motifnya,” ucapnya. Ia mengklaim selama delapan kali pergantian kontingen FPU, tidak ada masalah. Justru mereka dinilai berprestasi. Menurut dia, tim dari Indonesia mampu beradaptasi dan bekerja sama.

    Baca juga:
    Patrialis Akbar OTT KPK, Ketua MK: Ya Allah Saya Mohon Ampun
    Panglima Yakin Personel Tak Terlibat Penyelundupan Senjata

    Boy menuturkan upaya yang dilakukan Polri saat ini adalah mengklarifikasi bahwa pihaknya tidak terlibat dalam penyelundupan senjata api. Ia mengaku telah bekerja sama dengan PBB, otoritas Sudan, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sudan untuk mengusut kasus penyelundupan senjata api tersebut. “Sebenarnya barang itu milik siapa, kenapa bisa ada di dalam bandara,” kata Boy.

    Misi perdamaian United Nations African Mission in Darfur (UNAMID) dimulai sejak 2007 untuk membantu menghentikan kekerasan di wilayah barat Sudan. UNAMID merupakan misi perdamaian terbesar kedua di dunia dengan anggaran US$ 1,35 miliar lengkap dengan 2.000 personel. Namun anggota polisi yang bergabung dalam pasukan misi perdamaian di Sudan tersebut ditahan pada 20 Januari 2017 saat akan meninggalkan Bandara Al Fashir, Darfur, Sudan. Dari bagasi yang diduga milik para anggota Polri tersebut, disita puluhan jenis senjata api.

    DANANG FIRMANTO



    Baca juga:
    Salah Eja Ikan Tongkol, Pelajar Ini Dapat Sepeda dari Jokowi
    Lihat SMS Mesra di HP Istri, Kades Murka Lalu Aniaya Warga
    Kasus Rizieq di Jabar, dari 'Campur Racun' sampai Soal Tanah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.