Begini Kisah Hoax dari Zaman Sukarno hingga Jokowi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga yang tergabung dalam Masyarakat Anti Hoax Yojomase (Yogyakarta, Magelang dan sekitarnya) mendeklarasikan gerakan masyarakat sipil stop perseberan berita hoax di titik nol kilometer, Yogyakarta, 22 Januari 2017. Aksi kampanye tersebut diakhiri dengan deklarasi anti hoax dan mengajak masyarakat bersama-sama memerangi persebaran informasi hoax. TEMPO/Pius Erlangga

    Sejumlah warga yang tergabung dalam Masyarakat Anti Hoax Yojomase (Yogyakarta, Magelang dan sekitarnya) mendeklarasikan gerakan masyarakat sipil stop perseberan berita hoax di titik nol kilometer, Yogyakarta, 22 Januari 2017. Aksi kampanye tersebut diakhiri dengan deklarasi anti hoax dan mengajak masyarakat bersama-sama memerangi persebaran informasi hoax. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Informasi dan berita bohong atau palsu rupanya bukan cerita baru di Indonesia. Hampir di setiap periode pemerintahan, dari Presiden Sukarno hingga Presiden Joko Widodo, muncul berita palsu atau hoax. Tak jarang berita palsu itu diterima apa adanya oleh rakyat ataupun pejabat.

    Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, mengatakan ada banyak motif penyebaran berita palsu, dari mulai memperkeruh suasana hingga mencari keuntungan pribadi ataupun kelompok. “Dulu lebih banyak mencari materi. Kalau zaman ini berbeda. Apalagi dibuat ramai di media sosial dan memusingkan,” ujar Asvi.

    Baca: SBY Keluahkan Hoax, Jokowi: Jangan Banyak Keluhan

    Berita palsu juga sudah dianggap berbahaya oleh Jokowi. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) berencana menerbitkan pedoman bermuamalah melalui media sosial. Langkah MUI itu dilakukan terkait dengan semakin maraknya hoax di media sosial yang kerap memicu provokasi. 

    "MUI merasa perlu memberi panduan dan pedoman," ujar Ketua MUI Ma'ruf Amin di kantor MUI, Jakarta Pusat, Senin, 23 Januari 2017. Langkah ini tak lain untuk mencegah peredaran berita palsu agar tidak merajalela. Berikut ini cerita hoax dari rezim-rezim di Indonesia seperti dikutip Koran Tempo edisi Senin, 23 Januari 2017.

    Era Presiden Sukarno

    Suami-istri, Idrus dan Markonah, mengaku sebagai Raja dan Ratu Kubu, Suku Anak Dalam, Sumatera, pada 1950-an. Mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah dalam rangka pembebasan Irian Barat yang saat itu masih di tangan Belanda.

    Cerita itu terdengar ke Istana. Mereka pun diundang seorang pejabat negara untuk bertemu dengan Presiden Sukarno yang sedang membutuhkan dukungan masyarakat untuk pembebasan Irian Barat. Idrus dan Markonah pun bertemu dengan Sukarno, dengan jamuan bak tamu terhormat.

    Baca: ICMI: Waspadai Hoax dan Adu Domba

    Namun kedok keduanya terbongkar saat mereka jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta. Seorang tukang becak mengenali keduanya karena Idrus merupakan rekan satu profesinya. Sedangkan Markonah seorang pelacur. Kejadian ini merupakan kasus penipuan pertama yang memakan korban sampai tingkat presiden.

    Era Presiden Soeharto

    Pada 1970-an, ramai berita bayi di dalam kandungan Cut Zahara Fona, asal Aceh, bisa berbicara dan mengaji. Informasi itu menggegerkan masyarakat dan masuk surat kabar, bahkan sampai ke telinga Adam Malik dan Tien Soeharto, Ibu Negara. Keduanya pun memanggil Cut ke Istana Presiden.

    Saat pertemuan, Adam dan Tien mendengarkan suara janin membaca Al-Quran. Kabar itu pun menjadi besar. Namun seorang dokter bernama Herman tak percaya karena menurut dia, janin belum bisa bernapas dan mengeluarkan suara. Akibat pendapat itu, Herman diancam akan dibunuh orang yang percaya Cut. Belakangan, kedok Cut terkuak. Rupanya dia memasang sebuah tape recorder di perutnya.

    Era Presiden Megawati Sukarnoputri

    Pada 2002, Menteri Agama Said Agil Al Munawar mengaku mendengar informasi ada harta karun milik Prabu Siliwangi yang terpendam di Batu Tulis, Bogor. Informasi itu diteruskan ke Megawati. Megawati pun menunjuk Said Agil sebagai pemimpin untuk menggali harta karun yang disebut bisa melunasi utang Indonesia. Belakangan, Said menghentikan penggalian dan harta karun tidak ditemukan.

    Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

    Kabar air menjadi bensin (blue energy) pada 2008 sempat ramai di pemberitaan. Penemunya, Joko Suprapto, mempresentasikannya di depan SBY yang kemudian memberikan bantuan Rp 10 miliar dan mendirikan pabrik blue energy di Cikeas. Temuan itu mendapat kecaman, terutama dari Universitas Gadjah Mada, karena dianggap bohong. Belakangan, Joko meminta maaf karena tidak bisa mengubah air jadi bensin dan menjadi tersangka di Polda DI Yogyakarta.

    Muncul juga kabar tentang temuan Padi Supertoy HL2 pada 2008. Padi hasil program staf khusus SBY, Heru Lelono itu, disebut bisa membuat hasil panen meningkat dari 3-4 ton per hektare menjadi 15 ton. Namun petani di Desa Grabag, Purworejo, Jawa Tengah, memprotes karena hasilnya buruk. Partai Demokrat pun menganggap Supertoy HL2 mempermalukan SBY.

    Era Presiden Joko Widodo

    Kabar tentang 10 juta pekerja asal Cina telah masuk ke Indonesia tak hanya menyebar di media sosial, melainkan di banyak pemberitaan online menjelang tutup tahun 2016. Pemerintah mengklarifikasi kabar itu dengan mengungkapkan jumlah pekerja asing asal Cina hanya 21 ribu orang dari total 74 ribu tenaga kerja asing di Indonesia. Gara-gara hoax ini Presiden Joko Widodo menghidupkan rencana pembentukan Badan Siber Nasional yang sempat dibatalkan.

    HISSIEN ABRI | ISTMAN MP | BERBAGAI SUMBER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?