Cak Imin: Intoleransi dan Radikalisme Ganggu Ekonomi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Inisiator Gerakan Nusantara Mengaji yang juga Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyampaikan pidato dalam acara Pembacaan Ikrar Anak-Anak Nusantara Cinta Al Quran dan Mengaji di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, 5 Mei 2016. ANTARA FOTO

    Inisiator Gerakan Nusantara Mengaji yang juga Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyampaikan pidato dalam acara Pembacaan Ikrar Anak-Anak Nusantara Cinta Al Quran dan Mengaji di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, 5 Mei 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyatakan menolak intoleransi, radikalisme, dan sentimen SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan isu intoleransi dan radikalisme telah menghantam urat nadi perekonomian nasional.

    "Semakin mendesak guna melindungi perekonomian rakyat. PKB sebagai partai modern, pembela Pancasila dan propenguatan ekonomi menolak dengan tegas segala bentuk sentimen SARA, intoleransi serta radikalisme agama," kata Muhaimin Iskandar dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Minggu 22 Januari 2017.

    Muhaimin menuturkan, sikap tegas seperti ini penting sebagai upaya melindungi perekonomian nasional. Dia menyebut ajakan "rush-money", boikot Sari Roti dan fitnah serbuan tenaga kerja asing asal China sebagai contoh sentimen terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Dampak terhadap berita-berita seperti itu, kata dia, menyebabkan dunia usaha dan dunia keuangan was-was.

    "Itu artinya, urat nadi ekonomi nasional tengah dibidik untuk dihancurkan," ujar pria yang biasa disapa Cak Imin.


    Baca juga:
    Jokowi Sudah Setengah Tahun Belajar Memanah
    Sekretaris Klub Bola Madiun Kaget Rumahnya Digeledah KPK
    Cerita Jokowi Jatuh Cinta pada Busur dan Anak Panah

    Cak Imin menambahkan, gejolak pasar keuangan Indonesia dimulai pada November 2016, dengan munculnya dua sentimen negatif. Pertama, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, dan kedua, merebak sentimen SARA, menyusul kasus tuduhan penistaan agama terhadap Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Akibatnya, kata dia,  rupiah melemah cukup dalam, dibandingkan mata uang negara lain di kawasan. Tak hanya itu, sejak awal November 2016 dana investor asing hengkang dari pasar saham sebesar Rp18 triliun maupun obligasi Rp24 triliun.

    Cak Imin menuturkan, sentimen SARA dan radikalisme agama mulai secara riil menghantam sektor bisnis dan dunia keuangan saat mencuat isu 'rush money' dan boikot Sari Roti. "Kedua isu tersebut sempat menekan pergerakan saham kedua perusahaan yang mencerminkan kekhawatiran investor akan dampak negatif dari isu tersebut terhadap pendapatan dan kinerja perusahaan," ujarnya.

    Guna mengetahui seberapa parah dampak isu negatif tersebut, kata Cak Imin, PKB menggelar diskusi panel pada Senin besok 23 Januari 2017 pukul 08.00 WIB bertema 'SARA, Radikalisme dan Prospek Ekonomi 2017' di gedung CIMB Niaga.

    Pembicara diskusi itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Tenaga Kerja RI Muhammad Hanif Dhakiri, Liky Sutikno, Chairman INACHAM (Indonesia Chamber of Commerce in China), Ekonom, Faisal Basri, dan Sofjan Wanandi, pengusaha/Staf Ahli Koordinator Presiden RI.

    ANTARA

     

    Simak juga:
    4 Penyebab Hoax Mudah Viral di Media Sosial
    Pos Perbatasan Indonesia-Timor Leste Jadi Tempat Wisata

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.