Kasus Penghinaan Pancasila, Gus Sholah: Proses Hukum Ditaati

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengasuh Ponpes Tebuireng KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah). ANTARA/Syaiful Arif

    Pengasuh Ponpes Tebuireng KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah). ANTARA/Syaiful Arif

    TEMPO.CO, Jakarta - Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Salahuddin Wahid meminta kepada aparat penegak hukum memproses kasus dugaan penistaan pancasila dengan baik.

    Tujuannya agar tensi kehidupan yang disebabkan oleh masalah tersebut tidak semakin panas. "Silakan polisi memproses dengan baik," ujar Salahuddin usai menjadi pembicara diskusi Forum Peduli Bangsa di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah, Pacet, Mojokerto, Sabtu, 21 Januari 2017.

    Sebelumnya, imam besar Front Pembela Islam Rizieq Syihab diadukan putri Bung Karno, Sukmawati Soekarnoputri ke Polda Jawa Barat karena dianggap menghina Pancasila. Rizieq membandingkan Pancasila yang digali Bung Karno dengan Pancasila di Piagam Jakarta.

    Pemeriksaan Rizieq di Polda Jawa Barat berimbas pada bentrokan antara FPI dengan ormas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia. Situasi kian runyam karena Sekretariat GMBI di Bogor dibakar massa yang diduga simpatisan FPI.

    FPI bermanuver dengan menggelar unjuk rasa mendesak Kapolri mencopot Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal Anton Charliyan karena menjadi pembina GMBI.

    Gus Sholah, sapaan akrab Salahudin, meminta masalah tersebut tidak diperuncing. Adik mendiang Gus Dur itu mengimbau semua pihak menaati proses hukum. "Yang sudah terjadi jangan ditambah-tambahi (masalah) lagi," ujarnya.

    KUKUH S. WIBOWO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.