Trump Diperkirakan Takkan Persulit Mahasiswa RI ke Amerika Serikat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Donald Trump menyapa undangan saat berdansa bersama istrinya Melania Trump dalam memeriahkan acara perayaan peresmian Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-45 di Liberty Ball, di Washington, AS, 20 Januari 2017. REUTERS

    Presiden Donald Trump menyapa undangan saat berdansa bersama istrinya Melania Trump dalam memeriahkan acara perayaan peresmian Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-45 di Liberty Ball, di Washington, AS, 20 Januari 2017. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Himpunan Alumni Amerika Serikat Jimmy Gani memprediksi Presiden Amerika ke-45 Donald Trump tidak akan mengambil kebijakan yang akan mempersulit mahasiswa dari negara lain untuk sekolah di negara tersebut. Menurut Jimmy, kontribusi mahasiswa asing yang belajar di Amerika terhadap perekonomian cukup tinggi.

    "Biaya sekolah untuk siswa asing lebih mahal jika dibanding pelajar lokal," ujar Jimmy dalam diskusi Ikatan Alumni Program Habibie (Iabie) dengan tema "Trump Presidency and It's Impact to Indonesia" di Al Jazeerah Signature, Jakarta, Sabtu, 20 Januari 2017.

    Jimmy mengatakan jumlah pelajar internasional yang melanjutkan studinya di Amerika tahun akademik 2015/2016 telah menembus 1,044 juta. Jika setiap pelajar membayar uang sekolah rata-rata US$ 25 ribu, ucap dia, pelajar asing memberikan kontribusi sebesar US$ 25 miliar terhadap perekonomian Amerika.

    Menurut Jimmy, langkah proteksi Trump akan lebih fokus pada tenaga kerja asing dan perdagangan luar negeri. "Menurut laporan Open Doors yang diterbitkan Institute of International Education (IIE), ada 8.728 pelajar dari Indonesia di Amerika, meningkat 26 persen sejak 2010. Memang ada tren peningkatan setiap tahun," tuturnya.

    Direktur Eksekutif Institut Pengembangan Manajemen Indonesia itu berujar, 66 persen pelajar Indonesia di Amerika menempuh pendidikan strata satu. Sisanya, yakni 18,6 persen, menempuh pendidikan pascasarjana, 11,3 persen mengikuti pelatihan praktek pilihan, dan 3,4 persen terdaftar di program nongelar.

    Organisasi nirlaba yang bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Amerika itu juga menyebutkan pelajar asing terbanyak di Amerika berasal dari Cina, yakni mencapai 31,5 persen atau 328.547 siswa. Setelah Cina, menyusul India dengan 165.918 pelajar, Arab Saudi 61.287 siswa, dan Korea Selatan 61.007 pelajar.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?