Mengapa Ahli Ekonomi Pertanian Berkumpul di Pontianak?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lahan persawahan. TEMPO/Subekti

    Lahan persawahan. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Pontianak - Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat menjadi tuan rumah penyelenggaraan rapat kerja nasional Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi).

    Ketua Umum Perhepi, Bayu Krisnamurthi di Pontianak, Sabtu, 21 Januari 2017 mengatakan sebagai perhimpunan dari keprofesian ekonomi pertanian, pihaknya memiliki misi untuk terus membantu pemerintah daerah.

    Bayu melihat salah satu yang semakin berkembang di Kota Pontianak adalah urban farming dengan berbagai macam variasinya.

    Baca juga: Seratusan TKI dari Malaysia Mulai Dipulangkan ke Daerah Asal

    "Demikian pula wisatanya yang semakin berkembang, khususnya kuliner dan agrowisata. Kuliner pasti lekat dengan makanan, dan kalau ada makanan pasti ada sayur-sayuran dan buah-buahan, artinya meskipun sebagai kota, Pontianak juga memiliki dimensi pertanian yang tinggi," kata Bayu.

    Bayu juga menawarkan kerja sama dengan Pemkot Pontianak untuk memajukan ekonomi pertanian di kota ini, dalam bentuk dukungan pemikiran, diskusi dan lainnya.

    "Kami berharap Pak Wali Kota Pontianak, Sutarmidji jangan segan untuk memerintahkan Komisariat Daerah (Komda) Perhepi Pontianak, karena mereka cukup andal untuk bisa membantu, paling tidak sharing dalam bentuk diskusi dan pemikiran-pemikirannya," ujarnya.

    Menurut dia, Perhepi saat ini telah tersebar di 34 kota, dan dalam waktu tidak lama lagi akan bertambah menjadi 36 kota di seluruh Indonesia dengan total anggota sebanyak 5.600 orang. "Saya sudah beberapa kali berkunjung ke Kota Pontianak, dan perkembangan Pontianak sangat luar biasa sekali," katanya.

    Menurut dia, Pontianak dan Kalbar seperti miniaturnya Indonesia, dimana tingkat keragamannya, kompleksitasnya, serta ekonominya yang sangat beragam dan juga dinamis.

    Sementara itu, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menyambut baik digelarnya Rakernas Perhepi di Kota Pontianak. Ia menilai, keberadaan organisasi keprofesian, perguruan tinggi dan lainnya sudah semestinya dimanfaatkan untuk kemajuan daerah. "Sayang kalau pemerintah daerah yang ada di Kalbar tidak memanfaatkan perguruan tinggi, organisasi-organisasi profesi untuk peningkatan daerahnya masing-masing," katanya.

    Meskipun Pontianak memiliki lahan pertanian yang terbatas, namun pihaknya masih mempertahankan 800 hektare sebagai kawasan agribisnis. Bahkan, Pontianak menjadi pusat pengembangan aloevera nasional. "Home industry aloevera sudah memproduksi 30 turunan produk berbahan baku aloevera," ujar Sutarmidji.

    Tidak sedikit hasil-hasil pertanian di Pontianak menjadi andalan kota ini. Sebut saja aloevera yang beratnya bisa mencapai 2,5 kilogram satu pelepahnya. Demikian pula talas Pontianak beratnya bisa mencapai satu kilogram. "Talas Pontianak itu paling bagus dibandingkan talas Bogor, karena elain besar ukurannya, rasanya juga empuk," katanya.

    ANTARA

    Simak:
    Cuitan SBY Masih Hangat, SBY Akan Hadiri Natal Nusantara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...