Perangi HIV/AIDS, Kemsos Alih Fungsikan Panti Sosial

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memberikan sambutan dalam acara

    Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memberikan sambutan dalam acara "Talkshow Perempuan dan Inovasi" di Gedung Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Jakarta, 26 April 2016. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Sosial (Kemsos) memperluas jangkauan pelayanan terhadap penderita HIV/AIDS dalam memerangi penyakit tersebut dengan mengalihfungsikan sejumlah panti di daerah.

    "Alih fungsi dan peningkatan status ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah dalam mengatasi tingginya persebaran penyakit HIV/AIDS di Indonesia," kata Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa seperti dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, 20 Januari 2017.

    Baca juga: Subang Darurat HIV/AIDS, 120 Penderitanya Meninggal

    Sebanyak dua panti yang dialihfungsikan tersebut antara lain Panti Sosial Bina Daksa Bahagia di Medan, Sumatera Utara, yang sebelumnya memberikan layanan bagi penyandang disabilitas tubuh dan Panti Sosial Bina Lara Kronis (PSBPLK) Wasana Bahagia di Ternate yang sebelumnya memberikan pelayanan bagi mantan penderita kusta.

    Selain itu, Kementerian Sosial juga telah menaikkan status Rumah Perlindungan Sosial Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang di Sukabumi yang sebelumnya berstatus sebagai rumah perlindungan sosial meningkat menjadi sebuah panti.

    Simak pula: Penyebaran HIV/AIDS Ancam Jawa Barat

    Khofifah menjelaskan hingga 2016 masyarakat yang terinveksi HIV/AIDS berjumlah 27.611 orang, terdiri dari 198.219 orang terkena HIV dan 78.292 orang terkena AIDS. Dan dari 34 Provinsi yang berhasil didata, lima provinsi dengan populasi orang dengan HIV terbesar meliputi Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

    "Jumlahnya bisa lebih besar, karena data tersebut hanya berdasar kunjungan medik ke RS ataupun Puskesmas," katanya.

    Realitas ini, lanjut Khofifah, menandakan masih diperlukan upaya keras untuk mencegah HIV/AIDS menyebar di masyarakat. Butuh komitmen berbagai pihak untuk bersama-sama memerangi persebaran penyakit ini di Indonesia.

    Mensos juga mendorong masyarakat untuk menyudahi diskriminasi dan stigma terhadap penderita HIV/AIDS. Dirinya berpendapat diskriminasi tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah akan menambah beban mereka, sehingga sebaiknya berikan terus dukungan positif kepada para penderita HIV/AIDS.

    Lihat juga: Jumlah Pengidap HIV di Maluku Utara Mengkhawatirkan

    Khofifah mengatakan diskriminasi terjadi lantaran masih kuatnya stereotip di masyarakat bahwa penyakit itu terjadi akibat perilaku menyimpang dan penderita adalah orang-orang tidak baik. Padahal, HIV/AIDS sama dengan penyakit lainnya sehingga tidak perlu ada pembedaan atau diskriminasi terhadap penderita.

    Lebih lanjut ia mengatakan, penyakit ini juga bisa menyerang semua orang, termasuk ibu rumah tangga dan anak mereka. Oleh karena itu, diperlakukan pemahaman menyeluruh bagi masyarakat luas agar orang dengan HIV/AIDS tidak dikucilkan.

    ANTARA

    Baca juga:
    SBY: Ya Allah Negara Kok Jadi Begini, Juru Fitnah Berkuasa
    Kasus Dana Bansos DKI, Sylviana Sebut Nama Jokowi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.