Kalla: Donald Trump Proteksionis, yang Rugi Rakyat Amerika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah massa memegang poster saat melakukan aksi protes anti-Trump di depan Trump International Hotel New York, 19 Januari 2017. Pelantikan ini akan menjadi pertemuan pertama Hillary Clinton dan Donald Trump setelah pemilihan. AP/Kathy Willens

    Sejumlah massa memegang poster saat melakukan aksi protes anti-Trump di depan Trump International Hotel New York, 19 Januari 2017. Pelantikan ini akan menjadi pertemuan pertama Hillary Clinton dan Donald Trump setelah pemilihan. AP/Kathy Willens

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla yakin kebijakan ekonomi Donald Trump tidak akan sama seperti yang dikampanyekan dalam kampanye. Sebab, kebijakan yang proteksionis justru akan merugikan masyarakat Amerika sendiri.

    Melihat janji selama kampanye, kata Kalla, Trump terlihat sangat proteksionis untuk kepentingan Amerika. "Memang semua presiden harus begitu. Tapi, untuk Amerika yang menganut ekonomi liberal, saya yakin apa yang dikampanyekan tidak akan mudah diterapkan 100 persen," ucap Kalla, Jumat, 20 Januari 2017, di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

    Baca:
    Trump Jadi Presiden AS, Ini Mega Proyeknya di Indonesia

    Jika Donald Trump Menang, Ini Program Kerja 100 Harinya

    Dia mengatakan itu menjawab pertanyaan mengenai antisipasi yang harus dilakukan Indonesia menjelang pelantikan Trump sebagai Presiden Amerika. Pelantikan Trump akan dilakukan pada Jumat, 20 Januari 2017, waktu setempat.

    Selain itu, rencana Trump menerapkan bea masuk bagi barang-barang Cina sebesar 45 persen dinilai Kalla akan sulit dilakukan. "Yang pertama kali protes adalah orang Amerika sendiri, karena nanti mereka mendapatkan harga yang naik dan daya beli Amerika akan turun."

    Baca juga: Donald Trump Presiden AS, Ini yang Ditakutkan Dunia

    Kalla mencontohkan toko-toko di Amerika, seperti Walmart, yang hampir 90 persen barangnya berasal dari Cina, mulai baju, sepatu, piring, iPhone, dan iPod. Jika barang-barang itu dipajaki hingga 45 persen, harga yang dibeli warga Amerika akan lebih mahal. "Tidak mudah menerapkan itu.”

    Menurut Kalla, kebijakan itu sama sulitnya jika Trump membuat tembok di perbatasan Meksiko. “Siapa yang akan kerja di California atau Texas, bertani, dan sebagainya. Tidak ada lagi orang Amerika yang seperti itu."

    AMIRULLAH SUHADA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.