Harga Tinggi, Warga Banyumas Giat Tanam Cabai di Halaman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani memetik cabai rawit matang di sentra pertanian Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 6 Januari 2017. Harga cabai rawit di kebun meroket sampai Rp 65.000 per kg akibat sedikitnya panen dan serangan penyakit patek. Imbasnya harga cabai rawit di pasar di sejumlah daerah naik sampai Rp 120.000 per kg. TEMPO/Prima Mulia

    Petani memetik cabai rawit matang di sentra pertanian Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 6 Januari 2017. Harga cabai rawit di kebun meroket sampai Rp 65.000 per kg akibat sedikitnya panen dan serangan penyakit patek. Imbasnya harga cabai rawit di pasar di sejumlah daerah naik sampai Rp 120.000 per kg. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Banyumas – Harga cabai yang naik beberapa waktu terakhir membuat warga Banyumas bersemangat menanam cabai di halaman rumah seperti imbauan pemerintah. Pekarangan rumah milik Sumirah, yang memiliki luas sekitar 3 meter persegi, sejumlah tanaman tumbuh termasuk cabai. Tanaman lainnya adalah tomat, terong, brokoli, seledri, dan pepaya. Di lahan itu sebagian besar berisi ditanami cabai lengkap dengan polybag berwarna hitam.

    “Di warung harga cabai tiga biji seribu rupiah. Makanya saya menanam sendiri,” ujar Sumirah, 53 tahun, warga RT 006 RW 001 Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Kamis, 19 Januari 2017.

    Harga cabai rawit di Banyumas, kata Sumirah, berada pada kisaran Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu. Pada Agustus tahun, dia mendapatkan bantuan bibit tomat, cabai, terong, dan brokoli dari desa. Bantuan bibit itu digunakan untuk mewakili Kecamatan Kalibagor lomba Pemanfaatan Lahan Pekarangan yang diadakan oleh pemda Banyumas.

    “Sebelum ada lomba kami sudah lama menanam dulu. Saat cabai mahal kami tidak perpengaruh,” kata Agus, suami dari Sumirah.

    Pantauan Tempo, tanaman cabai milik Sumirah terlihat lebih terawat dibandingkan milik warga lainnya. Sumirah menggunakan pupuk organik yang berisi campuran buah maja, ragi tape, kunyit, gula pasir, dan air kencing kelinci yang difermentasikan selama setengah bulan.

    “Saya juga menyiram cabai tiap pagi dan sore dengan menyemprotkan air dengan botol air mineral yang dilubangi tutupnya. Arahnya penyiraman dari bawah ke atas karena mulut daun berada di bawah saat menyerap air,” katanya.

    Dari 20 tanaman cabai yang ditanamnya, Sumirah sudah merasa tercukupi. Dalam sehari dia membutuhkan 20-25 cabai yang dipetiknya langsung dari pekarangan rumahnya. Masa panen cabai membutuhkan waktu 2 bulan.

    Agar produksi cabai cabai maksimal, selama 2-3 kali panen dia menanam kembali bibit cabai yang sudah disediakan. “Karena lebih dari itu sudah mulai kurang produktif,” kata Agus menambahkan.

    Ketua RT 006 RW 001, Mismowo, menerangkan bantuan bibit yang diperolehnya dan dibagikan ke warga berbuah manis. Pada Desember, kampungnya mendapatkan juara kedua lomba Pemanfaatan Lahan Pekarangan se-Banyumas.

    Dari 105 KK, sebanyak 30 KK yang masih konsisten menanam karena ketersediaan lahan. Karena itu, warga di desa tetangga sering mendatanginya untuk sekadar bertanya dan membeli bibit. “Saya jual tiga bibit seharga seribu rupiah,” terangnya.

    BETHRIQ KINDY ARRAZY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?