Ormas Sayap PKB: Radikalisme Ancam Bhinneka Tunggal Ika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pejalan kaki melintas di bawah poster bertuliskan Nusantara Bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika yang terpasang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta,, Senin, 28 November 2016. TEMPO/Imam Sukamto

    Seorang pejalan kaki melintas di bawah poster bertuliskan Nusantara Bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika yang terpasang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta,, Senin, 28 November 2016. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Garda Bangsa menilai kebhinekaan yang ada di Indonesia saat ini terancam oleh perkembangan paham radikal dan terorisme.

    "Realitas kekinian menunjukkan bahwa kekerasan, intoleransi, radikalisme mengancam kebhinekaan dan demokrasi kita," kata Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa, Cucun A Syamsurijal, di Jakarta, Rabu.

    Cucun menyatakan fenomena radikalisasi masih terus terjadi di Indonesia. Sepanjang tahun 2016, telah terjadi sedikitnya empat kali bom bunuh diri. Menurut dia, gerakan-gerakan intoleransi dan berpaham radikalisme telah mengancam sendi-sendi kebangsaan yang telah dibangun dengan susah payah oleh pendiri bangsa.

    Sekretaris Fraksi PKB di DPR RI itu menyampaikan, beberapa lembaga penelitian, seperti Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) mensinyalir bahwa paham radikalisme-terorisme telah masuk dan menginfiltrasi institusi pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah.


    Baca juga:
    Hamdan Zoelva: Upaya PPI Membangun Toleransi

    Pupuk Toleransi, Gus Ipul Minta Tokoh Agama 'Kopi Darat'

    Selain itu, lembaga riset juga menyebutkan bahwa empat persen dari penduduk di Indonesia atau sekitar 10 juta masyarakat mendukung pandangan-pandangan dan gerakan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS), katanya. "Ironisnya, pandangan-pandangn radikal dan ekstrim ini didukung oleh anak muda yang berada dalam usia produktif," katanya.

    Padahal, generasi muda merupakan masa depan Indonesia yang akan menjadikan demografi sebagai bonus pembangunan. Mereka tidak hanya dominan dari sisi demografi, namun juga kelompok mayoritas dalam elektoral, mereka adalah generasi milenial, katanya.

    Untuk menyikapi hal ini, DKN Garda Bangsa menyatakan bakal mengundang Kapolri Jenderal  Tito Karnavian untuk hadir dalam Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) DKN Garda Bangsa, di Jakarta, Kamis 19 Januari 2017, untuk membahas deradikalisasi, intoleransi dan teorisme beserta solusinya. "Kondisi aktual ini mendorong organisasi Garda Bangsa untuk membahas lebih mendalam upaya mengatasi radikalisasi dalam benak pemuda dan generasi milenial," kata dia.

    ANTARA

    Baca juga:
    Apakah Itu Pengajian Politik Islam? Ini Kata Hamdan Zoelva

    Redam Berita Hoax, Pemerintah Akan Temui Mark Zuckerberg




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.