Sidang Dahlan Iskan, 5 Saksi: Pelepasan Aset Dilakukan Wisnu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dahlan Iskan mendengarkan saksi dari jaksa penuntut umum dalam perkara penjualan aset PT Panca Wira Usaha di Pengadilan Tipikor Surabaya, 13 Januari 2017.

    Dahlan Iskan mendengarkan saksi dari jaksa penuntut umum dalam perkara penjualan aset PT Panca Wira Usaha di Pengadilan Tipikor Surabaya, 13 Januari 2017.

    TEMPO.CO, Jakarta - Lima mantan karyawan PT Panca Wira Usaha, yang masuk dalam tim penjualan aset, mengaku tidak pernah dilibatkan Ketua Tim Penjualan Aset, Wisnu Wardhana, dalam proses pelepasan aset Badan Usaha Milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Kediri dan Tulungagung tersebut.

    "Semua Pak Ketua (Wisnu Wardhana) yang melakukan," kata Budi Raharjo, 52 tahun, mantan staf keuangan PT PWU, saat bersaksi dalam persidangan perkara dugaan korupsi penjualan aset PT PWU dengan terdakwa Dahlan Iskan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya, Selasa, 17 Januari 2017.

    Baca juga: Sidang Dahlan Iskan, Jaksa Bacakan 22 Lembar Surat Dakwaan

    Selain Budi Raharjo, tim penjualan aset terdiri dari Yohanes Jasika, 56 tahun, mantan staf umum dan sekretariat PT PWU; Muhammad Sulkhan, (55), mantan staf PT PWU; Suhadi (53), mantan staf bagian umum persewaan PT PWU; dan mantan staf personalia PT PWU merangkap sekretaris tim penjualan aset, Emilia Aziz (56).

    Menurut mereka, tim di antaranya tidak dilibatkan dalam penentuan tafsiran harga, menentukan tiga penawar tertinggi, serta menentukan penawar tertinggi. "Semua teknis yang melakukan pak ketua. Kami memproses surat-surat itu setelah menerima dokumen dari Pak Wisnu," kata Emilia Aziz.

    Dokumen-dokumen itu, kata dia, semua yang mempersiapkan adalah Wisnu Wardhana. Karena, kata Emilia, "Selain menjadi ketua tim penjualan aset, beliau jadi kepala biro aset PT PWU." Sehingga, anggota tim percaya dengan Wisnu. Ditanya jumlah penawar, mereka menyebut ada empat penawar.

    Simak pula: Jaksa Tolak Semua Eksepsi Dahlan Iskan

    Dalam persidangan kali ini, jaksa penuntut umum menyodorkan bukti-bukti transaksi penjualan aset yang dilakukan sebelum pembukaan penawaran lelang. Jaksa menyebut aset di Kediri sudah dilakukan transfer pada 3 Juni 2003 dan pembukaan penawaran baru dibuka pada 16 Juni 2003.

    Sedangkan aset di Tulungagung sudah ditransfer pada 30 Agustus 2003. Sementara penawaran baru dibuka pada 8 September 2003. "Inti permasalan kasus ini ada di situ. Transaksi penjualan aset sudah dilakukan sebelum penawaran dibuka," kata jaksa I Nyoman Sucitrawan.

    Menanggapi keterangan para saksi, Dahlan Iskan menyatakan tidak berkeberatan. Hanya saja mantan menteri BUMN ini menyatakan posisi Direktur Utama PT PWU yang ia jabat berbeda dengan dirut perusahaan lain. "Karena saya tidak mau berurusan dengan urusan uang," katanya.

    NUR HADI

    Baca juga:
    Cara Karawang Damaikan GMBI dan FPI: Pertandingan Sepak Bola
    Sidang Ahok, Kuasa Hukum Cermati Kesaksian 2 Polisi Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.