Warga Jawa Barat Harus Berkontribusi untuk Pembangunan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahmad Heryawan berpesan kepada warga Jawa Barat di perantauan agar tidak pulang sebelum sukses.

    Ahmad Heryawan berpesan kepada warga Jawa Barat di perantauan agar tidak pulang sebelum sukses.

    INFO JABAR - Masyarakat Sunda di perantauan harus dapat memiliki kehidupan yang baik dan mampu memberikan kontribusi untuk pembangunan di daerah itu. Hal ini karena masyarakat Jawa Barat memiliki pedoman hidup silih asah, silih asih, silih asuh.

    “Itu adalah tabiat keetnisan yang banyak dipuji etnis-etnis lain. Sebab, dengan pedoman tersebut, warga Jawa Barat terkenal dengan keramahtamahannya,” kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) dalam acara pelantikan Pengurus Forum Komunikasi Masyarakat Tatar Sunda Pangumbaraan (Formas Sunda Ngumbara) Provinsi Nusa Tenggara Barat Periode 2017-2022 di Gedung Utama Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, Minggu, 15 Januari 2017.

    Acara pelantikan yang dilakukan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Formas Sunda Ngumbara Jaka Bandung itu dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Zainul Majdi. Terpilih sebagai Ketua Umum Formas Sunda Ngumbara Nusa Tenggara Barat periode 2017-2022 adalah Josep Miradja. Josep adalah warga Nusa Tenggara Barat asal Jawa Barat yang sudah mengembara ke Nusa Tenggara Barat sejak 1965.

    Aher berpesan kepada masyarakat Sunda untuk selalu hidup berdampingan dengan masyarakat setempat. Ia juga meminta masyarakat Sunda memiliki keberanian dalam berbagai bidang kehidupan. “Orang-orang Jawa Barat sebenarnya ada di mana-mana. Hanya saja, tingkat keberaniannya harus dimunculkan. Sebab, masyarakat Sunda itu ramahnya terlalu ramah, sehingga sering dipojokkan yang lain,” ujarnya.

    “Ketika diperlukan untuk berbicara, jawabannya adalah mangga tipayun (silakan Anda duluan). Tapi ketika harus berlomba-lomba dengan kebaikan, kita harus ngomong, punten kapayunan (maaf keduluan),” katanya.

    Aher juga berpesan kepada warga di perantauan agar tidak pulang ke Jawa Barat sebelum sukses. “Tong baralik deui ka Jawa Barat da geus hareurin (jangan pulang karena Jawa Barat sudah sempit). Nanti kalau sudah sukses, sudah menjadi pengusaha, silakan ke Jawa Barat bagi-bagi investasi dengan Jawa Barat,” ucap Aher di hadapan ratusan warga Jawa Barat yang hadir dalam acara tersebut.

    Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat memiliki ikatan batin sejak dahulu. Menurut Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH Muhammad Zainul Majdi, provinsi yang dipimpinnya ini pernah juga dipimpin warga asal Jawa Barat, yakni H.R. Wasita Kusumah, kelahiran Tasikmalaya, 10 Agustus 1929. Wasita Kusumah menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat selama dua periode, yaitu 1968-1973 dan 1973-1978.

    Zainul juga menegaskan, kehadiran Gubernur Jawa Barat dalam kesempatan itu menjadi bentuk penegasan terhadap sesuatu yang paling berharga dimiliki bangsa Indonesia dengan beragam etnis atau suku dan budayanya. “Yang kita lakukan saat ini adalah menjaga silaturahmi dan persaudaraan di antara kita semuanya,” katanya.

    Orang Sunda atau warga Jawa Barat yang ada di Nusa Tenggara Barat mencapai 1.800-an orang. Mereka tinggal di Kota Bima hingga Kota Mataram. Zainul yakin warga Jawa Barat di Nusa Tenggara Barat jumlahnya mencapai puluhan ribu orang dengan berbagai latar belakang dan profesi.

    Sebelum Formas Sunda Ngumbara, Paguyuban Masyarakat Sunda di Nusa Tenggara Barat sudah ada sejak 1967 melalui Paguyuban Eka Warga Jabar. Hingga saat ini, ada juga paguyuban lain, seperti Pasundan dan Viking Lombok. “Forma Sunda Ngumbara hadir untuk memayungi semuanya, termasuk Paguyuban Masyarakat Sunda yang sudah ada,” kata Ketua Umum PP Formas Sunda Ngumbara Jaka Bandung. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Memberangkatkan 529 Kloter pada Musim Haji 2019

    Pada musim haji 2019, Indonesia memberangkatkan 529 kelompok terbang, populer disebut kloter, yang akan dibagi dalam dua gelombang.