UNS Siapkan Seribu Komputer untuk Ujian Masuk Mahasiswa Baru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung pascasarjana UNS. wikimedia.org

    Gedung pascasarjana UNS. wikimedia.org

    TEMPO.CO, Solo - Universitas Sebelas Maret (UNS) akan memperbanyak penggunaan Computer Based Test (CBT) dalam ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru pada tahun ini. Uji coba penggunaan ujian berkomputer yang digelar pada tahun lalu dianggap cukup memuaskan.

    Rektor UNS, Ravik Karsidi mengatakan uji coba penggunaan CBT baru dimulai pada tahun lalu. "Ada 60 perserta yang mengikuti ujian masuk dengan sistem komputer," katanya, Senin, 16 Januari 2017.

    Baca juga: UNS Wajibkan Mahasiswa Barunya Tanam Lima Pohon

    Menurut Ravik, uji coba ujian tersebut berjalan tanpa ada kendala. "Kerahasiaan soal menjadi lebih terjaga," katanya. Waktu dalam pengerjaan soal juga lebih efektif jika dibandingkan dengan ujian menggunakan kertas atau Paper Based Test.

    Selain itu, sistem koreksi dan penilaian juga menjadi lebih cepat dibanding dengan ujian konvensional. "Sehingga kami mendorong agar uji coba ini semakin diperluas," kata Ravik.

    Rencananya, tahun ini pihaknya akan menambah jumlah peserta yang mengikuti tes menggunakan sistem CBT. "Tidak tanggung-tanggung, tahun ini ada seribu peserta yang akan mengikuti ujian masuk melalui sistem CBT," katanya.

    Ravik mengatakan jumlah komputer yang ada di perguruan tinggi itu hanya terbatas. Rencananya, pihaknya akan bekerja sama dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada di Surakarta.

    "Kami sudah menjalin komunikasi baik dengan Dinas Pendidikan tingkat kota dan provinsi," katanya. Menurutnya, jumlah peralatan di laboratorium komputer yang ada di sekolah-sekolah di Surakarta sudah cukup memadai untuk penyelenggaraan ujian tersebut.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.