Wali Kota Risma Bakal Malu Jika Terkena Penyakit Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini membacakan deklarasi di Konferensi UN Habitat di Quito, Equador, Minggu sore waktu setempat.

    Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini membacakan deklarasi di Konferensi UN Habitat di Quito, Equador, Minggu sore waktu setempat.

    TEMPO.CO, Surabaya - Memasuki musim pancaroba, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta masyarakat Surabaya agar waspada dan memerangi persebaran penyakit Demam Berdarah. Dengan berapi-api, Risma mengajak warga agar tak malas melakukan langkah pencegahan. "Demam berdarah bisa dicegah asal kita tidak malas. Sakit itu nggak enak, meskipun biaya rumah sakit gratis," kata Wai Kota saat Apel Gebyar Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lapangan Sememi Jaya, Jumat, 13 Januari 2017.

    Meski berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian, demam berdarah dapat dihindari bahkan dicegah. Ia mendorong warga untuk bersama-sama memberantas sarang nyamuk dengan menutup wadah penyimpanan air dan mengecek keberadaan jentik secara berkala.

    Baca: 
    Memburu Jentik-jentik, Tugas Keluarga untuk Hindari Nyamuk

    Waspadai Nyamuk Penyebar DBD, seperti Apa Itu?

    Perempuan 54 tahun itu juga mengatakan jumlah penderita demam berdarah di suatu kota menjadi tolok ukur kepedulian warganya terhadap lingkungan. "Pak Ridwan Kamil iku lara, ternyata kenek demam berdarah. Nek aku sing lara ngono, ndelik aku. (Ridwan Kamil itu sakit ternyata kena demam berdarah. Kalau aku yang sakit begitu, aku sembunyi).”

    Menurut Risma, penyakit demam berdarah merupakan indikator keadaan sebuah kota. “Karena berarti ada sesuatu di kota itu yang nggak bener," ujar dia ceplas-ceplos.

    Risma terang-terangan mengingatkan warga Kota Pahlawan untuk bersikap antisipatif sejak awal atau sebelum musim penghujan usai. "Dulu ketika saya ingatkan di awal, angka penderita DBD menurun. Makanya saya ingatkan lagi," ucapnya.

    Ia berharap setelah adanya kegiatan di Sememi ini, Angka Bebas Jentik (ABJ) bisa meningkat hingga 90 persen.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita menjelaskan Angka Bebas Jentik (ABJ) idealnya berkisar 95 persen. Angka ini diperoleh dari jumlah penderita di wilayah itu, dibagi jumlah penderita total, dan dikalikan 100 persen. Apabila nilai ABJ tinggi, itu berarti jumlah penderita di wilayah itu sedikit. “Itu tanda wilayah yang sehat," ujar Febria. Di kawasan Sememi Jaya tempat apel digelar, kata Febria, ABJ baru mencapai 59 persen.

    Dinas Kesehatan Surabaya mencatat jumlah penderita demam berdarah di Surabaya pada 2016 sebanyak 920 orang, sedikit lebih banyak dibandingkan tahun 2015 yang berkisar 900 orang. Namun, angka kematiannya menurun dari 13 pada 2015 menjadi tujuh orang pada lalu. "Malah pada 2013 penderitanya sempat mencapai 2.000 orang. Ini sudah jauh berkurang."

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.