Mengaku Punya Samurai, Wanita Ini Tipu Insinyur Ratusan Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Barang bukti berupa dua gram ganja, alat isap sabu, dua plastik bekas penyimpanan sabu, dan tiga senjata tajam jenis parang dan pedang samurai ditemukan saat Badan Narkotika Nasional (BNN) menggeledah kampus Universitas Kristen Indonesia Cawang, Jakarta, 18 Desember 2014. Tidak banyak narkoba yang ditemukan dalam penggeledahan ini. TEMPO/Afrilia Suryanis

    Barang bukti berupa dua gram ganja, alat isap sabu, dua plastik bekas penyimpanan sabu, dan tiga senjata tajam jenis parang dan pedang samurai ditemukan saat Badan Narkotika Nasional (BNN) menggeledah kampus Universitas Kristen Indonesia Cawang, Jakarta, 18 Desember 2014. Tidak banyak narkoba yang ditemukan dalam penggeledahan ini. TEMPO/Afrilia Suryanis

    TEMPO.CO, Sleman-Sri Utami Ningsih, 57 tahun, warga Pandowoharjo, Kabupaten Sleman ditangkap polisi karena menipu korbannya dengan mengaku memiliki samurai jenis kingroll. Dari informasi mulut ke mulut, Karjono MP, yang juga seorang insinyur, tertarik untuk membeli pedang khas Jepang itu. Untuk biaya mengetes keaslian pedang, Sri meminta uang Rp 119 juta pada Karjono.

    "Tapi ternyata pedangnya tidak ada, kotaknya sudah dibakar," kata  Kepala Kepolisian Resor Sleman Ajun Komisaris Besar Burkan Rudy Satria, Kamis, 12 Januari 2017.

    Sri akhirnya ditangkap di rumahnya 16 Desember 2016. Penangkapan itu atas laporan korban setelah menyerahkan uang beberapa tahap. Ada yang diberikan tunai, ada pula yang ditransfer melalui bank.

    Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sleman Ajun Komisaris Sepuh Siregar, korban awalnya tertarik untuk membeli samurai yang ditawarkan tersangka. Tersangka menjanjikan mengetes keaslian samurai itu dengan syarat korban harus membayar dulu.

    Setelah uang Rp 119 juta diserahkan, ternyata tersangka tidak punya samurai. "Ngakunya punya dua kingroll tombol 3 dan 5 di dalam kotak kayu jati. Ternyata setelah bayar, tidak pernah ada," kata dia.

    Tersangka dijerat dengan pasal 378 atau 372 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Ancaman hukumannya empat tahun penjara. Perempuan paruh baya itu kini mendekam dalam sel tahanan Kelolisian Sektor Sleman. "Uang untuk bayar hutang, saya pakai sendiri," kata Sri.

    Karena banyak yang berminat untuk alih rawat --istilah pemindahtanganan benda kuno-- tak sedikit yang memanfaatkan peluang untuk berbuat kriminal. Modusnya, ada yang membuat pedang palsu tetapi disebut  asli.

    Samurai asli rata-rata buatan  1111 atau 1112 Masehi. Para pemegang amanat --sebutan orang yang mempunyai pedang itu-- umumnya kesulitan dalam merawat.  Para mediator dalam alihrawat pedang juga sering bermain dengan proses yang rumit.

    Misalnya, untuk melihat benda keramat itu, seseorang yang mengaku sebagai orang kepercayaan pembeli harus membayar jutaan rupiah dulu. "Banyak yang ngamen seperti itu, tapi ujung-ujungnya menipu," kata Kiai Darmaji, salah satu pemegang amanat samurai di Yogyakarta.

    Pedang kuno asal Jepang itu, kata dia, punya beragam jenis. Antara lain shogun, selendang, selendang knop, roll dan lain-lain. Jenis samurai roll juga bermacam-macam. Seperti handroll dan kingroll. Ada yang tombolnya 1 hingga 21. Semuanya ganjil. Warnanya juga bermacam, yaitu kuning, merah bata, perak, emas dan hitam.

    Darmaji menuturkan harga paling tinggi samurai ialah yang jenis kingroll. Bentuknya bulat. Jika tombolnya ditekan, maka keluar pegangannya. Ditekan tombol lainnya, baru muncul bilah pedang yang lentur. Begitu keluar dari roll-nya, bilah pedang yang semula lentur itu  langsung kencang atau disebut kedap.

    Biaya alih rawat samurai jenis ini, ujar Darmaji, dihitung per tombol. Jika asli, maka satu tombol bisa mencapai Rp 5 triliun. Jika terdapat 21 tombol, harganya mencapai Rp 105 trliun.

    MUH. SYAIFULLAH

    Baca juga:
    Gempa 5,4 SR Guncang Aceh, Warga Panik


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.