Jokowi Diundang Nonton Film Istirahatlah Kata-Kata

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster film Istirahatlah kata-kata. Twitter.com

    Poster film Istirahatlah kata-kata. Twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Keluarga dan sahabat Wiji Thukul menyampaikan undangan nonton bareng film Istirahatlah Kata-Kata pada Presiden Joko Widodo. Mereka berharap Jokowi bisa nonton film yang bercerita tentang penyair-aktivis Wiji Thukul, yang sampai saat ini masih hilang.

    "Pak Jokowi kan suka nonton film, kami harap beliau bisa nonton film yang berkisah tentang Wiji Thukul," kata produser Istirahatlah Kata-Kata, Yulia Evina Bhara, saat dihubungi Tempo, Rabu, 11 Januari 2017. Nonton bareng di gala premiere itu rencananya akan dilakukan beberapa hari menjelang pemutaran film yang akan dimulai 19 januari 2017 di delapan kota.

    Yulia mengatakan undangan sudah disampaikan melalui Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Eko Sulistyo pada Selasa siang, 11 Januari 2017. Belum ada jawaban soal kepastian kehadiran Jokowi untuk nonton bareng. "Pak Eko bilang akan meneruskan undangan itu ke Presiden," kata Yulia.

    Istirahatlah Kata-Kata disutradarai Yosep Anggi Noen. Film ini berkisah tentang kehidupan Wiji Thukul saat harus bersembunyi dari kejaran polisi dan tentara setelah pecah kerusuhan 27 Juli 1996 di Jakarta. Rezim Orde Baru saat itu menganggap Wiji Thukul terlibat dalam kerusuhan dalam perebutan kantor PDI antara pihak Soerjadi dan Megawati.

    Wiji Thukul yang dikenal sebagai penyair yang kritis melalui puisi-puisinya pada penguasa pun melarikan diri ke Pontianak. Dia meninggalkan keluarganya yang berada di Solo. Penguasa Orde Baru saat itu membungkam suara-suara kritis dengan menculik sejumlah aktivis. Setelah pada 21 Mei 1998 rezim berganti, hingga kini keberadaan Wiji Thukul tidak diketahui. Ada dugaan Wiji Thukul salah satu aktivis yang menjadi korban penghilangan paksa.

    Yulia mengatakan Istirahatlah Kata-Kata patut ditonton Presiden karena mengajarkan bangsa untuk memaafkan tanpa melupakan. "Film ini mengajak manusia Indonesia merefleksikan jaman kegelapan bangsa sebagai kenyataan masa lalu agar tidak terulang di masa depan," kata Yulia.

    Sahabat Wiji Thukul, Rahardjo Waluyo Jati, berharap film ini akan menjadi pengingat bahwa negara masih punya utang sejarah terhadap kasus penculikan pada masa lalu. "Ekspektasi film ini akan membuat orang bertanya kembali tentang kasus penghilangan paksa, yang akan membuat negara gelisah sehingga melakukan proses hukum dan pencarian korban," kata Rahardjo pada Minggu, 8 Januari 2017, di Kedai Tjikini, Menteng, Jakarta Pusat.

    Wahyu Susilo, adik Wiji, mengatakan apa yang diharapkan keluarga terhadap kasus Wiji Thukul adalah adanya kepastian. Sebab, hampir 20 tahun keluarga tidak tahu di mana keberadaan Wiji, apakah masih hidup atau sudah meninggal. Harapan itu terungkap dalam salah satu adegan di film Istirahatlah Kata-Kata melalui ucapan Sipon, istri Wiji. "Saya tidak ingin kamu pergi, saya tidak ingin kamu pulang, yang saya inginkan kamu ada, apa pun kondisinya," ujar Wahyu menirukan ucapan Sipon.

    Rahadjo mengatakan Istirahatlah Kata-Kata adalah film yang berkisah tentang dunia batin seorang sastrawan. Dia mengatakan film ini bukanlah film yang berbicara soal politik, tapi soal kemanusiaan. Film ini, kata Raharjo, hanya ingin berbagi bagaimana kita harus menjaga orang yang kita cintai. "Film ini bertutur, bagaimana pun kerasnya kehidupan dan tantangan, yang jadi prioritas Wiji adalah keluarga," tutur Rahardjo.

    AMIRULLAH SUHADA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.