Polda Riau Sita 60 Ribu Bungkus Rokok Asal Sidoarjo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi rokok. TEMPO/Subekti

    Ilustrasi rokok. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Riau menyita  60.400 bungkus rokok asal Sidoarjo, Jawa Timur karena menyalahi aturan cukai. Diperkirakan kerugian negara akibat kegiatan curang pajak rokok itu mencapai Rp 77 juta.

    "Cukai rokok tidak sesuai dengan jumlah barangnya," kata Kepala Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Komisaris Besar Rivai Sinambela, Rabu, 11 Januari 2017.

    Baca juga:
    Bawa Sabu, 2 Polisi Asal Sorong Ditangkap di Maros

    Menurut Rivai kasus itu terungkap berdasarkan informasi masyarakat  serta pengembangan sejumlah perkara serupa pada 2016. Ribuan bungkus rokok berbagai merek itu disita dari sebuah gudang di Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Polisi turut menangkap pemilik gudang berinisial TB, 49 tahun.

    Dari gudang tersebut, tutur Rivai, polisi menyita 60.400 bungkus rokok yang dikemas dalam 302 kardus. Semua rokok yang terdiri dari berbagai merek itu berasal dari Sidoarjo.

    Rivai berujar ribuan rokok tersebut sebenarnya sudah memiliki cukai, namun tidak sesuai dengan jumlah barang yang diedarkan. Cukai rokok hanya diperuntukkan untuk 12 batang rokok dalam satu bungkus. Namun faktanya satu bungkus rokok berisi 20 batang. "Telah terjadi kecurangan cukai yang mengakibatkan negara merugi hingga Rp 77 juta," ujarnya.

    Rivai menambahkan polisi  masih melakukan pengembangan untuk menyelidiki keterlibatan pihak lain. Menurut dia, rokok yang disita  rencananya  diedarkan di wilayah Batam, Kepulauan Riau. Rokok tersebut sudah dipesan oleh warga Batam inisial M untuk dijual di wilayah tersebut. "Kami masih mendalami keterlibatan pihak lainnya," ujarnya.

    RIYAN NOFITRA

    Baca juga:
    Usut Kasus Zina Bupati Katingan, DPRD Studi Banding ke Garut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.