Cara Bupati Purwakarta Atasi Pedasnya Harga Cabai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memusnahkan alat hisap shisha hasil razia Satpol PP dari para pelajar yang biasa menggunakannya di tempat-tempat tongkrongan di kota Purwakarta, Selasa, 2 Nopember 2016. Alat hisap shisha juga banyak digunakan buat menyedot narkotik terutama jenis sabu-sabu.TEMPO/Nanang Sutisna.

    Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memusnahkan alat hisap shisha hasil razia Satpol PP dari para pelajar yang biasa menggunakannya di tempat-tempat tongkrongan di kota Purwakarta, Selasa, 2 Nopember 2016. Alat hisap shisha juga banyak digunakan buat menyedot narkotik terutama jenis sabu-sabu.TEMPO/Nanang Sutisna.

    TEMPO.CO, Purwakarta - Ada berbagai cara dilakukan untuk mengatasi makin pedasnya harga cabai rawit. Di Purwakarta, Jawa Barat, Bupati Dedi Mulyadi, melakukan Gerakan Menanam Cabai Rawit di sekolah yang dilakukan oleh semua siswa mulai dari jenjang SD hingga SMA dan sederajat.

    "Satu anak diwajibkan menanam minimal lima pohon," kata Dedi, di sela acara Gerakan Menanam Cabai Rawit yang dipusatkan di SDN Ciwangi 1 Kecamatan Bungursari, Purwakarta, Selasa, 10 Januari.2017.

    Baca juga:
    Menteri Perdagangan: Naiknya Harga Cabai Hanya Musiman
    Menteri Perdagangan: Cabai Rawit Merah Banyak yang Membusuk

    Ia mengungkapkan harga cabai rawit di pasar-pasar tradisional di Purwakarta saat ini, dibanderol antara Rp 130 hingga Rp 150 ribu per kilogramnya.

    Ia sengaja mengerahkan kalangan pelajar buat menanam cabai rawit di sekolah, kecuali memberikan pengajaran bercocok tanam dalam upaya mengatasi program ketahanan pangan jangka panjang, juga mendidik anak-anak supaya belajar aplikatif dari pelajaran biologi yang diterimanya di sekolah.

    "Anak-anak juga diajak hidup produktif sejak dini. Lebih baik mengarahkan anak menanam cabai rawit ketimbang bermain gaget," kata Dedi. Gerakan menanam cabai rawit juga sejalan dengan program pendidikan karakter berbasis pertanian yang telah diterapkan di seluruh sekolah di Purwakarta.

    Ia menyebutkan, saat ini, ada 150 ribu pelajar di semua jenjang pendidikan. Jika seorang siswa diwajibkan menanam lima pohon cabai rawit berarti ada 750 ribu pohon cabai rawit yang siap dipanen dalam beberapa bulan ke depan. "Produksinya pasti melimpah dan warga Purwakarta tak akan kekurangan stok cabai rawit dengan harga yang murah pula," tutur Dedi.

    Gerakan menanam cabai rawit tersebut, menurut Dedi, tidak melulu diwajibkan sepada setiap anak pelajar melainkan juga diwajibkan kepada para orang tua pelajarnya untuk sama-sama menanam di rumahnya masing-masing. "Yang punya halaman bisa menanam di halaman, yang tak punya halaman cukup dalam pot saja," ucapnya.

    Bupati yang sehari-hari selalu mengenakan pakaian khas Sunda pangsi lengkap dengan ikat kepalanya tersebut, berjanji akan mengerahkan para penyuluh pertanian ke setiap sekolah buat mengedukasi para pelajar dalam proses pemeliharaan tanaman cabainya. "Supaya benar cara memupuk dan memeliharanya, sehingga tanaman cabainya tidak banyak yang mati," kata Dedi.

    Ada pun para murid di SDN I Ciwangi, sudah beberapa bulan lalu diwajibkan menanam cabai rawit di halaman sekolahnya. Sebabnya, ketika para pelajar di sekolah lainnya baru proses menanam, mereka saat ini, sudah bisa memanennya.

    "Alhamdulillah, ketika harga cabai rawit di pasaran melambung tinggi, para orang tua murid di SDN I Ciwangi malah bisa panen raya bersama anak-anaknya," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purwakarta, Rasmita Nunung Sanusi, yang hadir mendampingi Dedi.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.