Jumat, 23 Februari 2018

Saksi Irena Handono dan Pembela Ahok Berdebat Soal Tabayun

Oleh :

Tempo.co

Selasa, 10 Januari 2017 19:12 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Saksi Irena Handono dan Pembela Ahok Berdebat Soal Tabayun

    Ekspresi Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat hadir dalam sidang lanjutan kasus penistaan agama di Auditorium Kementrian Pertanian, Jakarta Selatan, 10 Januari 2017. Sidang kelima ini masih beragendakan mendengarkan keterangan saksi dari pihak penuntut umum. Aditia Noviansyah/Pool

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota tim kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Sirra Prayuna, dan saksi Irena Handono berdebat soal kata "tabayun" dalam sidang dugaan penistaan agama dengan terdakwa Ahok di Pengadilan Jakarta Utara, yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa, 10 Januari 2017.

    BACA: Lima Saksi Ini Akan Pojokkan Ahok

    Pembela menilai sikap saksi pelapor Irena Handono, yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum, tidak bersikap tabayun atau mengkonfirmasi ulang atas pidato Ahok di Kepulauan Seribu.

    "Apakah saudara saksi pernah bertanya ini atau mengklarifikasi pidato yang disampaikan di Kepulauan Seribu?" kata Sirra.

    Mendengar pertanyaan tersebut, Irena justru mementahkan pertanyaan Sirra. Menurut Irena, kuasa hukum tidak mengerti soal pengertian dari kata tabayun tersebut. Bahkan, Irena menilai kuasa hukum menggunakan istilah yang tidak pada tempatnya.

    Baca: 
    Pengacara Ahok: Kami Akan Hancurkan Kredibilitas Saksi 
    Soal Fatwa MUI Penistaan Agama Ahok, Ini Komentar Gus Nuril

    "Ketahuilah, istilah tabayun itu merujuk pada istilah dalam hukum Islam. Di Al-Quran Bapak temukan di mana? NKRI ini kita ini berdiri berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang 1945. Kalau Indonesia ini pakai hukum Islam, terdakwa sudah kami usir," kata Irena.

    Sirra kembali melontarkan pertanyaan mengapa Irena tidak pernah berusaha mengklarifikasi pernyataan Ahok tersebut. Namun, lagi-lagi Irena membantah pernyataan kuasa hukum. Menurut dia, dirinya tidak wajib untuk meminta klarifikasi soal informasi apa pun yang ia terima.

    "Saya ini sangat taat kepada aturan hukum Indonesia. Oleh karena itu, menurut saya, ini menjadi tugas kepolisian yang mengecek dan ricek informasi tersebut. Kewajiban saya hanya melaporkan," kata Irena. 

    Irena adalah seorang mualaf yang pernah menjadi seorang biarawati. Sebelumnya, Irena mengaku mendapatkan informasi adanya dugaan penistaan agama berasal dari sebuah pesan pribadi yang ia terima dari aplikasi WhatsApp. Kemudian, perbincangan tersebut diakui Irena terus bergulir di grup obrolan lainnya. 

    LARISSA HUDA


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Deretan Kasus Rizieq Shihab, 11 Tuntutan dalam 9 Bulan

    Kabar kepulangan Rizieq Shihab pada 21 Februari 2018 membuat banyak pihak heboh karena sejak 2016, tercatat Rizieq sudah 11 kali dilaporkanke polisi.