Polri Selidiki Aliran Dana ISIS Temuan PPATK  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo alias Bahrun Naim. ANTARA/DOK SOLOPOS/Dwi Prasetya

    Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo alias Bahrun Naim. ANTARA/DOK SOLOPOS/Dwi Prasetya

    TEMPO.CO, Jakarta - Markas Besar Kepolisian RI (Polri) akan menyelidiki temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait dengan adanya transaksi pemindahan dana pada layanan keuangan berbasis teknologi (Fintech) yang dilakukan kombatan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Bahrun Naim.

    "Temuan PPATK ini merupakan fakta. Polri masih mendalami hal tersebut, meng-cross-check dengan kasus-kasus terorisme yang selama ini telah ditangani," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Komisaris Besarl Martinus Sitompul, di Mabes Polri, Jakarta, Selasa, 10 Januari 2017.

    Menurut dia, transfer uang memang bisa dilakukan dengan berbagai cara yakni melalui transfer perbankan, menggunakan jasa pengiriman uang, dan melalui mata uang virtual di dunia maya.

    Terkait dengan temuan PPATK tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk memantau perpindahan dana mata uang virtual demi memperkecil peluang penyalahgunaan fasilitas tersebut untuk aksi terorisme.

    Kendati demikian pihaknya mengungkapkan tidak bisa langsung memblokir pengiriman dana terduga teroris bila belum terbukti dana tersebut akan digunakan untuk aksi teror.

    "Siapa pun yang kami ketahui bagian atau kelompok (teroris) akan didata, tapi tidak akan bisa ditindak (pemblokiran) tanpa fakta perbuatan melawan hukum, jadi harus dibuktikan dulu. Misal seseorang kirim uang, lalu uang itu dimanfaatkan untuk aksi terorisme, misal beli bahan peledak, maka itu bisa ditindak. Tapi tanpa bukti yang cukup, enggak bisa (diblokir). Kecuali pengirimnya sudah terindikasi aksi terorisme," ujarnya.

    Sebelumnya, PPATK melacak adanya transaksi layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology) yang dilakukan Bahrun Naim.

    Bahrun Naim diketahui memanfaatkan sejumlah akun yang terdaftar pada penyedia jasa pembayaran PayPal atau menggunakan mata uang terenkripsi Bitcoin untuk mendanai sejumlah aksi teror yang terjadi pada 2016.

    PayPal adalah penyedia jasa pembayaran yang bisa digunakan untuk transaksi oleh seluruh pengguna Internet di seluruh dunia.

    ANTARA

    Baca juga: 
    INVESTIGASI: Kisah ABK Indonesia Jadi 'Budak' Kapal Taiwan
    Masalah SARA Marak, Megawati Kutip Ucapan Bung Karno
    Ahok Dilaporkan Menistakan Agama dari Diskusi di WhatsApp


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.