Ponpes NU Tolak Jika Ada Edaran Rizieq Jadi Imam Umat Islam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan santri mengikuti upacara peringatan Hari Santri di Silang Monas, Jakarta, 22 Oktober 2016. Peringatan Hari Santri diselenggarakan dengan mengangkat tema Merajut Kebhinekaan dan Kedaulatan Indonesia. ANTARA FOTO

    Puluhan santri mengikuti upacara peringatan Hari Santri di Silang Monas, Jakarta, 22 Oktober 2016. Peringatan Hari Santri diselenggarakan dengan mengangkat tema Merajut Kebhinekaan dan Kedaulatan Indonesia. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pesantren di Yogyakarta menyatakan menolak memberikan dukungan terhadap Rizieq Syihab sebagai imam besar umat Islam Indonesia. Hal itu diungkapkan Irwan Masduqi, pemimpin Pesantren Assalaffiyah Mlangi di Nogotirto, Gamping Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyusul beredarnya surat pernyataan dukungan terhadap Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab sebagai imam besar umat Islam Indonesia.

     "Setahu saya, surat itu baru beredar di Banten. Kalau di Yogyakarta, belum ada edaran," kata Irwan ketika dihubungi Tempo, Ahad, 8 Januari 2017.

    Di media sosial beredar surat pernyataan yang dibuat di Pandeglang, Provinsi Banten itu, tertanggal 4 Januari 2017. Surat pernyataan yang beredar itu mencantumkan nama, jabatan, alamat, desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.

    Menurut Irwan, Rizieq tidak punya pengaruh besar di pesantren Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren NU lebih simpati kepada habib yang pro-perdamaian, santun, dan demokratis.

    Pesantren NU pada umumnya lebih merujuk kepada sosok seperti Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, Jawa Tengah, yang toleran dan teguh membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Mayoritas pesantren NU tidak setuju dengan cara-cara Habib Rizieq," kata Irwan.

    Irwan mengatakan pesantren NU belum membuat surat edaran tandingan yang berisi seruan menolak surat pernyataan dukungan terhadap Rizieq. Adapun pesantren pimpinan Irwan didirikan Haji Masduqi pada 1936.

    Pesantren itu dikenal dengan pengajaran pentingnya pendidikan toleransi dan keberagaman. Pondok itu kemudian dilanjutkan putera Masduqi, Haji Suja'i Masduqi. Suja'i merupakan guru spiritual tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang mengajarkan cinta dan kasih sayang.

    Irwan merupakan anak Suja'i yang diwariskan untuk memimpin Pesantren Mlangi yang kini punya 750 santri laki-laki dan perempuan. Irwan tidak setuju dengan cara-cara yang dilakukan Islam garis keras yang sering menyerang kelompok lain. "Islam menghargai keragaman, bukan mengkafirkan. Tidak boleh saling memaksakan keyakinan," kata dia.

    Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat FPI Ahmad Sobri Lubis membantah mengeluarkan surat edaran yang mengajak masyarakat mendukung Imam Besar FPI Rizieq Shihab sebagai imam besar umat Islam Indonesia. "Tidak betul itu," kata dia saat dikonfirmasi Tempo, Ahad, 8 Januari 2017. Baca beritanya di sini

    SHINTA MAHARANI 

    CATATAN: 
    Berita ini mengalami perbaikan pada Minggu, 8 Januri 2017 pukul 22.16 Wib di bagian judul dan isi untuk lebih menyesuaikan dengan isi berita. Kami mohon maaf atas kesalahan ini.
    Berita ini mengalami perubahan kedua dengan penambahan pernyataan Ketua Umum FPI pada Senin, 9 Januari 2017, pukul 12.15 WIB.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?