Harga Cabai Rawit di Sorong Setara Ponsel Murah Meriah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cabai rawit merah. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Cabai rawit merah. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga cabai rawit di pasar tradisional Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat, selama sepekan terakhir ini naik hingga menembus Rp 250 ribu per kilogram, setara dengan harga ponsel murah meriah, seperti Nokia 107, Evercross C5, dan sekelasnya.

    Pedagang Pasar Aimas, Kabupaten Sorong, Jumat, 6 Januari 2017, menawarkan satu kilogram cabai rawit seharga Rp 250 ribu atau naik Rp 190 ribu dari harga sebelumnya, yang sebesar Rp 60 ribu per kilogram.

    Simak:
    Masih ‘Hot’ Harga Cabai di Beberapa Daerah

    Seorang pedagang pasar di Aimas Kabupaten Sorong, Rusdy, 32 tahun, mengaku menjual cabai rawit Rp 250 ribu karena harga di tingkat agen di Kota Sorong sudah naik. “Saya terpaksa menaikkan harga penjualan cabai rawit kepada konsumen agar memperoleh keuntungan karena harga di agen juga naik,” ujarnya.

    Ia mengatakan pasokan cabai rawit dari agen pun terbatas, sementara permintaan di pasar cukup tinggi, sehingga pedagang juga menaikkan harga jualnya ke konsumen. “Harga cabai rawit tak dapat dikendalikan lantaran pasokan dari petani lokal menurun karena gagal panen akibat diserang hama,” katanya.

    Hal itu berbeda dengan harga cabai keriting, yang tidak mengalami kenaikan, tetap stabil Rp 80 ribu per kilogram dengan stok berlimpah di pasar. “Meskipun harga cabai tinggi, hal itu tidak mengurangi minat masyarakat untuk membeli,” kata dia.

    ANTARA | S. DIAN ANDRYANTO

    Baca juga:
    Rokok dan Beras Penyumbang Kemiskinan Tertinggi Kaltim
    Polisi Selidiki Dugaan Korupsi Pengelolaan Trans Semarang



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.