Menristek: Korupsi Penyebab Utama Daya Saing Indonesia Turun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi korupsi

    Ilustrasi korupsi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan daya saing Indonesia dibanding negara-negara lain menurun dalam kurun 2014–2016. Pada 2014, Indonesia berada di urutan ke-34 dari lebih dari 130 negara. Pada 2015, turun ke posisi ke-37 dan pada 2017 kembali turun ke urutan ke-41. Ia menepis bahwa daya saing Indonesia turun lantaran kalah di bidang riset.

    “Indikator utama daya saing rendah karena bukan pada riset, tapi korupsi,” kata Nasir di kantornya, Jumat, 6 Januari 2017. Data dari The Global Competitiveness Report menyebutkan, pada 2016, posisi teratas negara yang memiliki daya saing tinggi adalah Swiss, disusul Singapura. Sedangkan Jepang berada di posisi ke-8.

    Nasir mengakui potensi korupsi bisa saja terjadi pada institusinya. Misalnya, dari sistem perizinan. Ia menilai ada kemungkinan penyalahgunaan kewenangan saat suatu lembaga perguruan tinggi mengajukan permohonan izin pendirian program studi di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Korupsi bisa dalam bentuk penyuapan kepada pegawai pada proses permohonan itu.

    Namun Nasir telah mengantisipasi potensi itu dengan membangun sistem online. Dengan sistem online, kontak langsung antara pemohon dan petugas saat akan mengurus perizinan, misalnya untuk pendirian program studi di kampus, dapat diminimalkan. “Harapannya, sistem online bisa mengurangi korupsi,” ucapnya.

    Sistem online juga mampu memangkas birokrasi yang sebelumnya bertele-tele. Ia mencontohkan, dulu perizinan pendirian program studi baru bisa mencapai empat tahun. Dari pemrosesan berkas satu bisa mencapai waktu enam bulan, belum form-form selanjutnya. Namun pihaknya kini menargetkan pengurusan izin itu bisa selesai dalam waktu enam bulan.

    Nasir menambahkan, pihaknya kini juga membentuk satuan tugas sapu bersih pungli untuk diterapkan di lingkungannya. Ia mengaku bakal bertindak tegas apabila ada pegawai yang terbukti melakukan korupsi. “Akan saya berhentikan dari pekerjaannya,” katanya.

    DANANG FIRMANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.